Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku
- account_circle Yesi Kristiani
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 67
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Yesi Kristiani
Cerita sederhana tentang seorang kakak yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupku.
Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak selalu kita sadari kehadirannya, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Bagiku sosok kakak Sinta sangat berarti dalam setiap perjalanan ku, terutama ketika saya dapat dukungan dari kedua orang tua saya dan keempat kakak-kakak saya untuk melaju ke jenjang perkuliahan,waktu itu saya mendapatkan tawaran dari seorang Pastor untuk ikut Beasiswa di kampus universitas Sanata Dharma,disaat itu saya sangat tertarik untuk mencobanya, tetapi saya sangat takut kalau semisal saya lulus tes dan berangkat ke Yogyakarta sendiri.
Namun tidak berselang lama kakak Sinta juga ikut mendaftarkan diri lewat bantuan seorang Pastor yang sama seperti saya,demi bisa menemani saya menempuh perjalanan yang cukup panjang dan jauh tersebut,Puji Tuhan saya dan kakak Sinta sama-sama lulus di Universitas Sanata Dharma dan berangkat dari Kalimantan-Yogyakarta bersama.
Ka Sinta adalah salah satu orang yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku sejak aku masih kecil. Banyak hal yang sudah kami lewati bersama. Ada cerita lucu, kebahagiaan, kesalahpahaman, bahkan pertengkaran kecil yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Walaupun hubungan kami tidak selalu sempurna, aku tetap bersyukur karena memiliki seorang kakak seperti dirinya.
Dulu, aku mungkin tidak terlalu memikirkan arti kehadiran seorang kakak. Bagiku, Ka Sinta hanyalah kakak yang terkadang suka menyuruh, menegur, atau mengingatkanku. Namun, semakin bertambahnya usia, aku mulai memahami bahwa di balik semua itu terdapat perhatian dan rasa sayang.
Tidak semua bentuk kasih sayang harus disampaikan melalui kata-kata. Terkadang, kasih sayang justru terlihat dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.
Sosok Ka Sinta di Mataku
Kalau ditanya seperti apa Ka Sinta, aku mungkin akan menjawab bahwa ia adalah orang yang sederhana, tetapi mempunyai tempat khusus dalam hidupku. Ia bukan seseorang yang selalu menunjukkan perasaannya secara langsung. Namun, aku bisa melihat kepeduliannya melalui hal-hal kecil.
Sebagai kakak, Ka Sinta terkadang bersikap tegas kepadaku. Ketika aku melakukan sesuatu yang salah, ia tidak ragu untuk menegur. Ada kalanya aku merasa kesal ketika mendengar nasihatnya. Aku merasa seperti sedang diatur atau terlalu banyak dinasihati. Namun, sekarang aku mulai melihatnya dari sisi yang berbeda.
Aku sadar bahwa seseorang tidak akan mengingatkan kita jika ia tidak peduli. Teguran dari Ka Sinta sebenarnya merupakan salah satu bentuk perhatian yang mungkin dulu belum bisa aku pahami.
Ia ingin aku menjadi lebih baik. Ia ingin aku belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.
Mungkin cara setiap orang menunjukkan kasih sayang memang berbeda. Ada yang mengungkapkannya dengan kata-kata, ada yang memberikan hadiah, dan ada juga yang menunjukkannya melalui perhatian kecil. Ka Sinta termasuk orang yang lebih sering menunjukkan rasa sayangnya melalui tindakan.
Perhatian Kecil yang Berarti
Ada banyak hal kecil yang dilakukan Ka Sinta dan terkadang baru kusadari setelah aku memikirkannya kembali.
Salah satunya adalah ketika ia menanyakan keadaanku. Pertanyaan sederhana seperti, “Sudah makan?” atau “Bagaimana tugasmu?” mungkin terdengar biasa saja. Tetapi ketika sedang merasa lelah atau mempunyai banyak pikiran, pertanyaan tersebut bisa membuatku merasa bahwa masih ada orang yang memperhatikan.
Begitu juga ketika aku sedang menghadapi kesulitan. Ka Sinta terkadang memberikan saran atau sekadar mendengarkan ceritaku. Ia mungkin tidak selalu mempunyai jawaban untuk semua masalahku, tetapi setidaknya aku merasa lebih ringan setelah bercerita.
Aku menyadari bahwa terkadang kita tidak membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan masalah kita. Kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Dan Ka Sinta sering menjadi orang seperti itu bagiku.
Walaupun mungkin ia sendiri mempunyai banyak kesibukan dan masalah yang harus dihadapi, ia tetap berusaha memberikan perhatian. Hal tersebut membuatku semakin menghargai dirinya.
Kami Tidak Selalu Akur
Sebagai saudara, tentu saja hubungan kami tidak selalu berjalan dengan baik. Ada kalanya kami berbeda pendapat. Ada juga saat-saat ketika aku merasa kesal kepadanya, begitu juga sebaliknya.
Terkadang hal kecil bisa menjadi masalah. Bisa karena salah memahami perkataan, berbeda pendapat, atau karena aku tidak melakukan sesuatu yang sudah ia ingatkan.
Ketika sedang bertengkar, rasanya kami sama-sama tidak ingin mengalah. Namun, biasanya rasa kesal itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa waktu, kami kembali berbicara dan melakukan aktivitas seperti biasa.
Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa hubungan keluarga tidak harus selalu sempurna. Perbedaan dan pertengkaran adalah hal yang bisa terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana kita kembali memperbaiki hubungan setelahnya.
Aku mulai memahami bahwa memaafkan adalah salah satu cara untuk menjaga hubungan tetap baik.
Ka Sinta sebagai Tempat Bercerita
Ada saat-saat ketika aku merasa bingung dengan sesuatu yang sedang kuhadapi. Kadang aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Dalam keadaan seperti itu, Ka Sinta menjadi salah satu orang yang bisa kudatangi.
Aku bisa menceritakan hal-hal sederhana kepadanya. Tentang kegiatan sehari-hari, tugas, masalah yang sedang kuhadapi, atau bahkan sesuatu yang membuatku senang.
Tidak semua cerita harus mempunyai masalah besar. Terkadang bercerita tentang kejadian kecil saja sudah cukup untuk membuat perasaan menjadi lebih lega.
Ka Sinta mungkin tidak selalu memberikan jawaban yang langsung membuat semua masalah selesai. Tetapi nasihat dan tanggapannya sering membuatku melihat masalah dari sisi yang berbeda.
Dari situlah aku menyadari bahwa mempunyai seorang kakak bukan hanya tentang memiliki anggota keluarga yang lebih tua. Kakak juga bisa menjadi teman untuk berbagi cerita dan tempat untuk belajar.
Belajar dari Perjuangan Ka Sinta
Selain menjadi tempat bercerita, Ka Sinta juga memberikan banyak pelajaran melalui kehidupannya sendiri.
Aku melihat bagaimana ia berusaha menjalani tanggung jawabnya. Ada kalanya ia merasa lelah, tetapi tetap berusaha menyelesaikan apa yang harus dilakukan. Ada juga saat ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Dari situ aku belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.
Setiap orang pasti mempunyai masalah. Perbedaannya adalah bagaimana seseorang menghadapi masalah tersebut.
Ka Sinta mengajarkanku secara tidak langsung bahwa ketika menghadapi kesulitan, kita tidak boleh langsung menyerah. Kita boleh merasa sedih dan lelah, tetapi setelah itu kita harus mencoba untuk bangkit kembali. Pelajaran itu sangat berarti bagiku sekarang.
Sebagai mahasiswa, aku mulai menghadapi banyak hal baru. Tugas yang banyak, waktu yang terbatas, dan berbagai tanggung jawab terkadang membuatku merasa lelah. Ada saatnya aku merasa tidak mampu menyelesaikan semuanya.
Tetapi ketika mengingat nasihat dan perjuangan Ka Sinta, aku mencoba untuk tetap bertahan dan menyelesaikan satu per satu apa yang harus kukerjakan.
Waktu yang Terus Berjalan
Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Dulu, mungkin kami mempunyai lebih banyak waktu untuk bersama. Sekarang, masing-masing mulai mempunyai kesibukan sendiri. Ada kegiatan yang harus dilakukan, tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan kehidupan yang terus berjalan. Hal itu membuatku berpikir bahwa suatu hari nanti kami mungkin tidak bisa sesering sekarang untuk berkumpul atau berbicara. Karena itu, aku mulai belajar menghargai waktu yang ada.
Aku ingin menikmati kebersamaan dengan Ka Sinta tanpa terlalu memikirkan hal-hal kecil yang terkadang membuat kami berbeda pendapat. Aku tidak ingin suatu hari nanti menyesal karena terlalu sibuk memikirkan pertengkaran kecil dan lupa menghargai orang yang selama ini ada untukku.
Terima Kasih, Ka Sinta
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan kepada Ka Sinta, tetapi mungkin tidak semuanya bisa kuucapkan secara langsung. Aku ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih karena sudah menjadi kakak yang selalu berusaha memberikan perhatian. Terima kasih untuk nasihat yang mungkin terkadang membuatku kesal, tetapi sebenarnya sangat berarti.
Terima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku, meskipun mungkin ceritaku tidak selalu penting. Terima kasih juga karena sudah menjadi salah satu orang yang mengingatkanku ketika aku melakukan kesalahan.
Aku tahu bahwa aku juga belum menjadi adik yang sempurna. Aku masih sering melakukan kesalahan, terkadang keras kepala, dan mungkin belum selalu bisa mengikuti nasihat yang diberikan. Tetapi aku ingin Ka Sinta tahu bahwa aku menghargai semua yang sudah ia lakukan untukku. Mungkin aku tidak selalu mengatakan rasa terima kasih itu, tetapi bukan berarti aku tidak merasakannya.
Harapan untuk Ka Sinta
Aku mempunyai banyak harapan untuk Ka Sinta. Aku berharap ia selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kekuatan dalam menjalani kehidupannya. Aku berharap semua usaha yang selama ini dilakukan dapat membawa dirinya menuju hal-hal yang baik.
Aku juga berharap suatu hari nanti aku bisa membuatnya bangga. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan mampu mencapai apa yang kuinginkan.
Jika nanti kami sudah mempunyai kehidupan masing-masing, aku berharap hubungan kami tetap dekat. Kesibukan dan jarak mungkin akan berubah, tetapi aku berharap rasa kekeluargaan di antara kami tidak pernah hilang.
Aku ingin tetap menjadi adik yang bisa ia ajak berbicara. Dan aku juga ingin Ka Sinta tahu bahwa ia akan selalu mempunyai tempat di dalam hidupku.
Ka Sinta mungkin hanya seorang kakak bagiku, tetapi kehadirannya mempunyai arti yang lebih besar dari sekadar hubungan sebagai saudara. Dari dirinya aku belajar tentang perhatian, tanggung jawab, kesabaran, dan arti sebuah keluarga. Aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus diucapkan. Kadang kasih sayang terlihat dari pertanyaan sederhana, teguran kecil, nasihat, dan kesediaan untuk tetap ada ketika kita membutuhkan seseorang.
Aku juga belajar bahwa tidak ada hubungan yang selalu sempurna. Sebagai saudara, kami pernah berbeda pendapat dan saling kesal. Namun, semua itu tidak menghilangkan rasa sayang dan hubungan yang sudah dibangun sejak lama.
Jika suatu saat nanti aku melihat kembali perjalanan hidupku, aku yakin akan ada banyak hal yang berubah. Tetapi aku ingin tetap mengingat masa-masa ketika Ka Sinta menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Bagiku, Ka Sinta bukan hanya kakak. Ia adalah seseorang yang pernah mengingatkanku ketika aku salah, mendengarkan ketika aku bercerita, memberikan semangat ketika aku lelah, dan menjadi salah satu orang yang membuatku merasa tidak sendirian.
Terima kasih, Ka Sinta. Mungkin aku tidak sering mengatakannya, tetapi aku bersyukur memiliki kakak sepertimu.
Semoga sampai kapan pun, dimanapun hi kami berada nanti, hubungan kami tetap menjadi bagian dari cerita keluarga yang tidak pernah selesai untuk dikenang.
- Penulis: Yesi Kristiani
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar