Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Balik Benteng Senyap: Mengeja Kasih dan Kegigihan yang Tak Terucap

  • account_circle Yumila Yumi
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yumila Yumi

Nama : Ninoi

Umur : 49 Tahun

Tempat Tanggal Lahir : Desa.Gandrung, 23-04-1977

Domisili : Dambung Raya

Wajah yang Menyembunyikan Semesta

Ada jenis kasih sayang yang tidak lahir dalam wujud kata-kata manis atau dekapan yang hangat. Ia tumbuh dalam bentuk yang keras, mengeras seperti karang, namun berdiri paling kokoh menahan gelombang. Bagi orang-orang yang hanya melihat dari kejauhan, raut itu mungkin tampak tajam, dingin, bahkan menakutkan. Sebuah wajah datar dengan garis bibir yang kaku dan tatapan yang seolah enggan diganggu.

Namun, di balik benteng ketegasan dan wajah yang kerap disalahartikan sebagai amarah itu, tersimpan sebuah denyut tanggung jawab yang teramat besar. Ia adalah tipe insan yang memilih untuk menyembunyikan lelahnya di balik ketajaman tatapannya, serta membungkus ketulusannya dengan sikap yang bersahaja.

Seseorang yang selalu mengusahakan apa pun bagi orang yang amat ia sayangi. Bahkan ketika jarak terentang jauh atau situasi menuntutnya bertarung sendirian, ia tetap amat memikirkannya. Ia rela mengesampingkan kepentingannya sendiri, membelakangkan lelah dan gengsinya, demi mengutamakan satu nama yang telah menjadi poros dari seluruh usahanya.

Lembut di Balik Amarah

Ketika suatu hari pertanyaan itu terucap—sebuah tanya sederhana tentang apa yang sedang ia renungkan—yang terpampang di hadapan hanyalah wajah datar yang sama. Wajah yang selalu terlihat tanpa ekspresi, seakan tak ada kepedulian yang bersisa. Bagi mereka yang tak mengenalnya, ketenangan itu bisa terasa menakutkan atau terkesan acuh tak acuh.

Namun, bagi seorang yang hidup di bawah naungan perlindungannya, raut kaku itu bukanlah penolakan. Ada pemahaman yang melampaui kata-kata. Di balik tatapan tajam dan mimik wajah yang dingin itu, ia tahu persis apa yang sebenarnya tersimpan: sebuah kecemasan akan keselamatan, sebuah doa yang tak pernah putus, dan rasa cinta yang begitu besar hingga tak cukup muat jika hanya disampaikan lewat ucapan.

Kasih sayangnya memang tidak riuh. Ia tidak diumumkan di hadapan keramaian. Ia hadir dalam bentuk tindakan-tindakan sunyi yang sering kali baru disadari ketika hari telah beranjak malam.

Jejak Kegigihan yang Tak Pernah Pudar

Tak ada yang benar-benar tahu seberapa keras ia berjuang di luar sana. Dunia luar kerap menuntutnya menjadi sosok yang tanpa cela dan tanpa lelah. Langkah kakinya yang tak pernah berhenti melangkah, peluh yang kerap ia usap secara diam-diam sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, hingga rasa lelah yang selalu disapu bersih hanya agar orang yang disayanginya dapat berdiri tegak dan tersenyum tenang.

Kegigihannya memperjuangkan kehidupan bukan sekadar kewajiban, melainkan wujud paling murni dari janji yang tak pernah ia ikrarkan secara lisan. Ia bertarung dengan waktu, mengorbankan waktu istirahatnya, dan kerap berdiri di garis paling depan ketika badai persoalan datang menerjang. Kasih sayangnya tak pernah menjelma menjadi puisi, melainkan menjadi setiap tetes keringat dan kepalan tangan yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Setiap pengorbanan yang ia lakukan tidak pernah ia catat sebagai utang, melainkan sebagai bentuk dedikasi yang utuh.

Gema Rasa Syukur yang Tertahan

Melihat seluruh ketulusan dan kegigihan yang terhampar di sepanjang perjalanan itu, ada rasa syukur yang membuncah dan teramat dalam di dalam dada orang yang diperjuangkannya. Sebuah gema yang kerap tertahan di ujung lidah, terhalang oleh rasa canggung atau keraguan untuk menyapa sosok yang tampak begitu tangguh.

Ingin rasanya mengutarakan betapa berartinya setiap jengkal perjuangan itu. Ingin rasanya menyampaikan bahwa setiap peluh dan letihnya tidak pernah luput dari pengamatan. Betapa besarnya rasa sayang dan terima kasih atas setiap perlindungan yang telah diberikan, atas setiap malam-malam sunyi di mana ia memilih untuk pasang badan demi menjaga kedamaian orang lain.

Sebab di balik sikapnya yang kadang ketus, tegas, dan tak tersenyum, ada kehangatan paling tulus yang selalu menjadi tempat pulang paling aman. Sebuah rumah yang tak berbumbung megah, tetapi selalu mampu melindungi dari dinginnya dunia.

Menatap Karang yang Memeluk

Pada akhirnya, kita belajar bahwa kelembutan tidak selalu berwujud belas kasih yang tampak dari luar. Kadang kala, kelembutan paling nyata tersembunyi di balik ketegasan yang tak goyah.

Menatap sosok itu kini bukan lagi menatap ancaman atau amarah, melainkan menatap sebuah karang di tengah samudera. Ia berdiri kokoh menahan gempuran ombak, bukan untuk menunjukkan kekuatannya sendiri, melainkan agar perahu kecil yang berada di belakangnya tetap tenang dan aman berlayar.

Terima kasih atas segala gigih yang tak pernah surut, dan atas kasih sayang luar biasa yang diajarkan tanpa perlu banyak bersuara, Ayah.

  • Penulis: Yumila Yumi
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Monica Cinderela
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Sebuah Feature tentang Kenangan, Kehilangan, dan Kampung Halaman Ada masa ketika sebuah kampung kecil selalu ramai oleh suara anak-anak sejak subuh belum sepenuhnya pergi. Suara sandal berlarian di jalan tanah, tawa yang berderai di halaman rumah, dan bau embun pagi yang bercampur asap dapur nenek — semua itu dulu adalah bunyi sehari-hari yang begitu biasa, […]

  • Sudut Pandang: Pulau Samosir Keindahan yang Tidak Hanya Dipandang photo_camera 3

    Sudut Pandang: Pulau Samosir Keindahan yang Tidak Hanya Dipandang

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Julianti Nainggolan Parhusip
    • visibility 67
    • 0Komentar

    “Pendidikan nasional seharusnya menimbulkan rasa cinta terhadap kebudayaan dan kebatinan sendiri.” (Ki Hajar Dewantara) Samosir datang dengan cara yang berbeda. Udara terasa lebih lapang, sementara Danau Toba terbentang luas seolah tidak memiliki ujung. Perbukitan mengelilingi pulau dengan tenang, menciptakan pemandangan yang membuat mata ingin tinggal sedikit lebih lama. Di tempat ini, perjalanan rasanya bukan sekadar […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 163
    • 20Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

expand_less