Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

  • account_circle Regina Alexandria Wulandari
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Regina Alexandria Wulandari

Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam dan tempat kerjanya memang berubah, tetapi semangatnya untuk bekerja tetap sama.

Sebagai anak tunggal, aku melihat perjalanan bapak dari dekat. Bagiku, kegiatan seperti menyapu, mengepel, menerima paket, atau membantu anak kos bukan sekadar pekerjaan. Di balik kegiatan tersebut ada tanggung jawab bapak untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga.

Seragam yang Menjadi Bagian dari Hidup

Selama 18 tahun, bapak bekerja sebagai satpam. Selama itu, ia terbiasa menjalankan tugas dengan disiplin, menjaga keamanan, dan memperhatikan keadaan di sekitar tempat kerja. Pekerjaan tersebut juga membuatnya bertemu dengan banyak orang dan menghadapi berbagai situasi.

Menjadi satpam membutuhkan keberanian, kedisiplinan, ketelitian, dan kesabaran. Ada waktu ketika bapak harus bekerja pada pagi, siang, bahkan malam hari. Ketika sebagian orang sedang beristirahat, ia terkadang masih berada di tempat kerja untuk memastikan lingkungan tetap aman.

Pekerjaan tersebut tentu tidak selalu mudah. Rasa lelah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, bapak tetap menjalankan tugas karena menyadari bahwa pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawabnya. Ia tidak selalu menceritakan kesulitan yang dialaminya kepada keluarga.

Pensiun Bukan Akhir dari Perjalanan

Setelah bekerja sebagai satpam selama 18 tahun, bapak memasuki masa pensiun pada akhir tahun 2025. Bagi sebagian orang, pensiun mungkin menjadi waktu untuk beristirahat setelah lama bekerja. Namun, bagi bapak, pensiun bukan berarti berhenti bekerja. Bapak tetap ingin bekerja karena masih memikirkan kebutuhan keluarga. Karena itu, bapak memilih untuk tetap bekerja selama masih mampu.

Setelah pensiun, bapak tidak langsung menjaga kos. Ia sempat bekerja di gereja dengan membantu mengecat tembok. Pekerjaan tersebut menjadi kegiatan yang dilakukannya setelah tidak lagi bekerja sebagai satpam. Meskipun pekerjaannya berbeda, keinginannya untuk tetap bekerja masih sama.

Pada awal tahun 2026, bapak mulai bekerja menjaga sebuah rumah kos. Pekerjaan tersebut menjadi babak baru dalam kehidupannya. Jika dahulu tugas utamanya berkaitan dengan keamanan, sekarang ia juga menjaga kebersihan dan membantu kebutuhan para penghuni.

Dari Seragam Satpam ke Pintu Kos

Para penghuni kos semuanya merupakan mahasiswi. Mereka memiliki kesibukan seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan mengikuti kegiatan kampus. Bapak juga tinggal di tempat kos tersebut sehingga ia menjaga lingkungan dari pagi hingga malam.

Pekerjaan baru membuat bapak bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tidak dikenalnya. Setiap penghuni memiliki karakter dan kebiasaan berbeda. Ada yang ramah dan sering menyapa, ada yang hanya ditemui ketika pulang kuliah, dan ada pula yang datang ketika membutuhkan bantuan.

Perubahan lingkungan kerja tersebut menjadi pengalaman baru bagi bapak. Dahulu ia berinteraksi dengan orang-orang dalam lingkungan kerja sebagai satpam. Sekarang ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswi yang sedang menjalani kehidupan perkuliahan.

Hari-Hari di Balik Pintu Kos

Rutinitas bapak dimulai sejak pagi. Ia menyapu dan mengepel lantai agar lingkungan kos tetap bersih dan nyaman. Setelah itu, ia memperhatikan keadaan sekitar dan memastikan tidak ada hal yang mengganggu kenyamanan penghuni.

Pada sore hari, bapak kembali menyapu lingkungan kos. Debu dan kotoran yang muncul sepanjang hari perlu dibersihkan. Kegiatan tersebut dilakukan berulang setiap hari, tetapi tetap membutuhkan tenaga dan ketekunan.

Bapak menjaga kos dari pagi hingga malam. Karena tinggal di tempat yang sama, ia dapat membantu ketika penghuni membutuhkan sesuatu. Pekerjaannya tidak hanya duduk dan menunggu, tetapi juga memperhatikan keadaan lingkungan serta memastikan kos tetap nyaman.

Menjadi Orang yang Bisa Diandalkan

Selain menjaga kebersihan, bapak sering membantu menerima paket milik anak kos. Ketika mahasiswi sedang mengikuti perkuliahan atau tidak berada di kos, ia menerima barang yang datang dan menyimpannya sampai pemiliknya kembali.

Bapak juga menerima makanan yang dipesan secara online. Makanan biasanya datang ketika mahasiswi sedang berada di kampus atau memiliki kegiatan lain. Bantuan tersebut membuat penghuni tidak perlu khawatir ketika pesanan datang saat mereka tidak berada di kos.

Bapak juga membantu ketika anak kos mengalami masalah di tempat tinggalnya. Salah satunya ketika toilet tersumbat. Ia membantu mengatasi masalah tersebut atau mencari cara agar toilet dapat segera digunakan kembali. Karena tinggal di tempat kos, bapak dapat lebih cepat membantu ketika masalah muncul.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi keberadaan bapak cukup berarti bagi penghuni kos. Ia bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi orang yang dapat dimintai bantuan ketika mereka menghadapi masalah sehari-hari.

Pekerjaan yang Menjadi Bentuk Kasih Sayang

Sebagai anak, aku melihat bahwa pekerjaan bapak setelah pensiun tidaklah mudah. Ia masih harus menggunakan tenaga untuk membersihkan lingkungan dan membantu ketika ada masalah. Walaupun usianya sudah 52 tahun, bapak tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.

Keputusan bapak untuk tetap bekerja setelah pensiun membuatku memahami arti tanggung jawab. Pensiun bukan berarti semua kebutuhan keluarga langsung selesai. Masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga bapak memilih untuk tetap bekerja.

Bapak mungkin tidak selalu menceritakan rasa lelah yang dialaminya. Ia juga tidak banyak membicarakan pengorbanan yang dilakukan. Namun, melalui rutinitasnya setiap hari, aku dapat melihat bahwa bekerja menjadi salah satu bentuk kasih sayangnya kepada keluarga.

Selama 18 tahun, ia menjaga keamanan sebagai satpam. Setelah pensiun pada akhir 2025, ia sempat mengecat tembok di gereja. Kemudian, pada awal 2026, ia mulai menjaga kos hingga sekarang. Tempat dan jenis pekerjaannya berubah, tetapi tanggung jawabnya terhadap keluarga tetap sama.

Di Balik Seragam dan Pintu Kos

Seragam satpam yang dahulu dikenakan bapak kini sudah tidak lagi menjadi bagian dari kesehariannya. Ia lebih sering terlihat membawa sapu, alat pel, menerima paket, atau membantu kebutuhan anak kos. Namun, perubahan pekerjaan tersebut tidak menghilangkan semangatnya untuk bekerja.

Pada akhirnya, kisah bapak bukan hanya tentang seorang mantan satpam yang kini menjaga rumah kos. Kisah ini adalah seseorang yang tetap bekerja setelah pensiun demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menjalani pekerjaan yang sederhana, tetapi memberikan menfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Di balik seragam dan pintu kos, terdapat sosok bapak yang terus berusaha menjaga. Ia menjaga kebersihan, mengawasi lingkungan dari pagi hingga malam, membantu mahasiswi, menerima paket dan makanan, serta menolong ketika ada masalah. Lebih dari itu, ia juga menjaga tanggung jawabnya terhadap keluarga.

Sebagai anak, aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Terkadang, kasih sayang hadir melalui hal-hal sederhana: sapu yang digerakkan, lantai yang dipel, paket yang diterima, dan kesediaan membantu ketika orang lain mengalami kesulitan.

  • Penulis: Regina Alexandria Wulandari
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 343
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 77
    • 8Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 336
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

expand_less