Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga
- account_circle Felisitas Tri Wulandari
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 106
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Felisitas Tri Wulandari (Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)
Pukul enam pagi, ketika sebagian orang di kampung kami belum bangun sepenuhnya dari tidur, seorang lelaki paruh baya sudah memanggul karung jagung menuju tempat penggilingan. Keringat membasahi punggungnya jauh sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia akan terus begitu sampai matahari benar benar tenggelam di ufuk barat, dua belas jam sehari, ditemani seorang perempuan yang tak pernah sekalipun meninggalkannya di ladang, ia adalah isterinya (ibu saya).
Ketika Nama Bapak Disegani
Enam tahun lalu, lelaki itu tidak mengangkat karung jagung dengan tangannya sendiri. Dulu dialah yang memberi perintah, dan orang lain yang mengangkutnya. Dialah yang membayar upah, bukan yang menerima peluh sebagai bayaran. Lelaki itu adalah Bapak saya, Agustinus. Ada masa ketika nama bapak disebut dengan hormat oleh hampir semua petani di kampung kami. Ia bukan sekedar petani jagung biasa, ia adalah tempat para petani lain menggantungkan harapan. Ketika musim tanam tiba dan banyak petani tak punya modal untuk membeli bibit, bapaklah yang turun tangan. Ia membeli bibit dari agen besar, lalu memberikannya kepada para petani yang sudah memesannya, sebuah kepercayaan yang dibangunnya dengan susah payah bukan diberikan begitu saja.
Orang orang datang silih berganti ke rumah kami untuk meminta benih jagung, atau sekedar duduk berbincang sambil menyeruput kopi yang selalu tersedia. Bapak dikenal sangat murah hati, gampang percaya dan sangat royal. Teman temannya banyak, dan mereka datang dengan mudah selama semua bisnis bapak agustinus berjalan lancar. Tak seorang pun, termasuk bapak sendiri, menyangka bahwa kepercayaan yang dibangunnya bertahun tahun itu akan runtuh hanya dalam hitungan satu musim yang buruk.
Kemarau yang Merenggut Segalanya
Musim itu hujan yang ditunggu tunggu tak pernah datang. Kemarau berkepanjangan membuat bibit yang telah disebar oleh para petani gagal tumbuh. Panen yang dijanjikan tidak pernah terwujud. Dan ketika saatnya tiba untuk mengembalikann modal, para petani yang meminjam bibit dari bapak satu per satu menghilang dari tanggung jawab. Tidak ada uang yang dikembalikan, tidak ada bibit yang diganti. Yang tersisa hanyalah hutang di bank dengan nominal lumayan besar yang bapak ajukan untuk membeli bibit sebagai modal awal dengan harapan akan ada panen yang berlimbah dari para petani yang meminta benih tersebut.
Lima Juta yang Tak Pernah Kembali
Di tengah beban itu, datang satu pukulan lagi. Seorang teman dekat menemui bapak dengan cerita yang meyakinkan katanya ada jagung yang sebentar lagi siap dipanen, tinggal menunggu modal kecil untuk diproses dan disetorkan. Lima juta rupiah saja, katanya, dan semua akan berjalan dengan lancar. Bapak tentu langsung percaya dan berfikir bahwa hasilnya nanti mungkin bisa digunakan sebagai modal awal lagi untuk berbisnis. Bertahun tahun berbisnis membuatnya terbiasa untuk mempercayai orang yang sudah lama dikenalnya. Uang itu diberikan. Namun jagung yang dijanjikan tak pernah datang. Begitu pula orangnya. Tahun tahun berlalu, dan baik uang, jagung, maupun kabar tentang teman itu tak pernah muncul kembali hingga hari ini. Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan uang, orang orang yang dulu begitu dekat dengan bapak, yang dulu sering singgah dan memanggilnya dengan hormat, perlahan menjauh. Rumah yang dulu ramai dikunjungi, kini sepi. Kepercayaan yang dulu membuatnya disegani banyak orang, kini seolah tak pernah ada.
200 Ribu Rupiah dan Tangan yang Kosong
Puncak dari semua itu datang pada satu hari yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Hari ketika saya bersiap berangkat merantau, dan bapak tidak sanggup memberi saya uang saku lebih dari 200ribu rupiah. Bagi seorang bapak, mungkin tidak ada yang lebih berat daripada berdiri dihadapan anak anaknya dan menyadari bahwa tangannya kosong.
Satu Orang yang Tak Pernah Pergi
Ketika hampir semua orang menjauh, satu orang justru semakin dekat, yaitu ibu. Ia tidak hanya menyemangati saja, tetapi turun langsung ke ladang bersama bapak. Bersama sama mereka mulai menanam cabai, timun, dan tomat, tanaman kecil yang bisa dipanen lebih cepat daripada jagung, sembari perlahan membangun kembali apa yang telah runtuh.
Sekarang, setiap pagi pukul enam, bapak dan ibu berangkat ke ladang. Bapak yang dulu memberi perintah, kini menjadi kuli angkut bagi jagungnya sendiri, memanggul karung menuju tempat penggilingan dengan tangannya sendiri. Ibu bekerja di sampingnya, menanam, merawat, dan memanen, tanpa pernah mengeluh. Mereka pulang ketika matahari sudah sepenuhnya tenggelam, lelah namun masih bersama.
Bapak dan ibu sendiri hanya sempat mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar. Namun keterbatasan itu tidak pernah membuat mereka berhenti bermimpi besar untuk anak anaknya. Di tengah kondisi ekonomi yang terkadang begitu sulit, mereka tetap bertekad menguliahkan ketiga anaknya. Anak pertama telah menyelesaikan S1 Akuntansi. Anak kedua memilih untuk menjadi Biarawati. Dan anak bungsu (saya sendiri) kini sedang menempuh S1 Pendidikan Sejarah dengan beasiswa penuh selama empat tahun di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Warisan yang Sesungguhnya
“Maaf ya nak bapak ibu tidak bisa mewarisi harta, hanya bisa mewarisi ilmu” begitu kalimat yang berkali kali diucapkan bapak dan ibu setiap kali membicarakan masa depan kami anak anaknya. Kalimat sederhana itu tidak pernah terasa seperti permintaan maaf yang sesungguhnya tapi justru terasa seperti janji yang mereka tepati dengan cara paling sunyi yaitu bekerja dari pagi hingga petang di ladang yang sama, agar anak anaknya bisa duduk di bangku kuliah yang tak pernah sempat mereka duduki sendiri. Kalimat itu pula yang terus terngiang setiap kali kondisi ekonomi keluarga terasa begitu berat hingga membuat saya sempat berpikir untuk berhenti kuliah. Tapi mengingat bapak yang setiap pagi tetap bekerja keras di ladang meski usianya sudah tidak muda, dan ibu yang tak pernah absen disampingnya, membuat saya sadar bahwa berhenti kuliah bukanlah pilihan yang pantas untuk perjuangan sebesar itu.
Ladang yang Lebih Kecil dan Usaha yang Tak Pernah Berhenti
Saya masih ingat rasa sunyi dulu, ketika bapak tak bisa memberi saya uang saku. Tetapi hari ini, ketika saya melihat bapak dan ibu berangkat bersama ke ladang setiap pagi, saya menyadari sesuatu yang tidak saya pahami waktu itu, bahwa orang orang yang menjauh saat bapak jatuh bukanlah kerugian yang sesungguhnya. Kerugian sesungguhnya adalah jika bapak berhenti mencoba. Ladang yang mereka garap sekarang jauh lebih kecil daripada usaha yang dulu bapak bangun. Tetapi ada satu hal yang tumbuh di sana yang tidak pernah dimiliki bapak pada masa jayanya dulu yaitu kepastian bahwa apa pun yang terjadi, ada satu orang yang akan tetap berdiri disampingnya, mencangkul tanah yang sama di bawah matahari yang sama, sampai matahari itu benar benar tenggelam, dia adalah ibu.
Tunggu Hari Itu, Bapak, Ibu
Sebagai anak bungsu, saya sering membayangkan suatu hari nanti giliran saya yang berdiri di ladang itu bukan untuk menggantikan bapak dan ibu saya, tetapi untuk membalas apa yang selama ini mereka perjuangkan diam-diam demi anak-anaknya ini. Uang saku yang dulu tidak bisa mereka berikan, ingin saya kembalikan suatu hari nanti dalam bentuk yang jauh lebih besar dan memastikan bahwa perjuangan mereka tidak berhenti sia sia di ladang itu saja.
Bapak, Ibu, bertahanlah. Jalan ini memang masih panjang, tetapi tidak akan sepanjang perjalanan yang sudah kalian tempuh hingga sejauh ini. Tunggulah hari ketika si bungsu bisa memberi kado terbaik yang selama ini belum sempat diberikan, bukan sekedar uang saku yang dulu tak pernah ada, tetapi kehidupan yang lebih tenang untuk kalian berdua. Tunggulah hari ketika kalian bisa duduk beristirahat, menikmati masa tua dari hasil yang selama ini kalian tanam, bukan hanya di ladang saja, tetapi juga di dalam diri anak anak kalian.
- Penulis: Felisitas Tri Wulandari
- Editor: Redaksi Mataleza

terharuu🥺
19 September 2026 11:12 pmSemoga dikuatkan
20 September 2026 7:41 pm