Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:  Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

  • account_circle Anjelina Roslin
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 75
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jangan Takut, Percaya Saja.”  (Markus 5:36).

Ada kalanya saya memandang sosok yang berdiri di depan altar itu bukan hanya seorang imam. Bagi umat dan banyak orang ia adalah imam yang memimpin perayaan ekaristi dan menjadi tempat untuk menemukan penguatan.

Namun, bagi saya, sosok itu memiliki arti yang jauh lebih dekat. Ia adalah sosok yang telah saya kenal jauh sebelum mengenakan jubah.

Ia adalah Romo Oswin.

Sebagai adiknya, saya mengenal Romo Oswin bukan pertama-tama sebagai imam.

Saya mengenalnya sebagai seorang kakak yang selalu membimbing adiknya dari kecil hingga tumbuh dewasa.

Dari dia saya melihat perjalanan hidup.

perjalanan yang tidak selalu berjalan mulus, tapi banyak pilihan, tantangan,dan keyakinan.

Dibalik jubah yang ia kenakan, ada perjalanan panjang yang tidak diketahui banyak orang.

Ada saat ia bertanya pada diri sendiri “kemana arah hidup yang akan saya jalani?”

Dari Sosok Yang Saya Kenal Hingga Menjadi Seorang Imam

Banyak kebersamaan yang telah kami lalui (19 tahun). Suka, duka, canda, tawa merupakan hal yang tak kunjung datang dan pergi. Walau kebersamaan kami dibatasi oleh jarak dan waktu, kasih sayang darinya kepada saya tidak pernah berubah.

Kadang rasa tak rela melepaskannya sebagai seorang imam masih ada, tapi rasa bangga melihatnya ditahbiskan menjadi gembala umat lebih besar dari itu semua.

Perjalanan yang dia lalui tidak mudah. Ada jalan yang terjal, ada langkah yang hampir menyerah. Tapi, saya tahu dia kuat.

“Kakak itu sangat nakal waktu kecil. Saking nakalnya, dia pernah digigit anjing di rumah temannya sampai di bawah ke rumah sakit. Setelah tiga bulan, digigit lagi anjing rabies jadi harus di vaksin rabies. Kalau ke sekolah tidak rewel, bisa urus sendiri hanya makanan saja yang bapa mama siapkan. Makanan kesukaan dia apa saja, intinya jangan daun pepaya. Waktu kecil dia suka bermain bola kaki dengan teman-temannya. Dia suruh bapak beli sepeda buat dia supaya ke sekolah dengan sepeda, lalu pulang sekolah dia kasih sepeda ke teman-temannya untuk latihan. Anaknya memang sangat nakal tapi selalu hormat dengan orang yang lebih tua.” Ujar Pak Ansel, ayah kami.

Ketika memandang masa-masa itu, saya sadar sebuah perjalanan besar seringkali berasal dari sesuatu yang sederhana.

Orang tentu tidak langsung tahu kemana kehidupan membawanya. Begitu pula Romo Oswin. Di hidupnya, muncul sebuah panggilan yang kemudian membuatnya menuju jalan imamat.

Ketika Sebuah Panggilan Mulai Tumbuh

Panggilan tidak dapat dipahami dari satu peristiwa, tetapi sebuah proses.

“Awalnya, dari SD kakak senang sekali lihat Romo di Gereja pakai jubah. Dalam hati dia bilang ‘saya nanti bisa tidak seperti ini.’ Akhirnya dia bilang di bapa, ‘Bapa, saya mau tes masuk seminari.’ Bapa izinkan intinya kemauan diri sendiri. Akhirnya dia ikut tes, mereka berdua tapi temannya tidak masuk. Kakak masuk di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa Maumere. Tamat dari sana kakak masuk SMAK Frateran Ndao Ende, karena dia pikir panggilan itu sudah tidak ada. Ternyata di SMA kakak lihat Frater Kepala setiap hari pakai jubah, dia senang sekali. Akhirnya dia bilang ‘Bapa, saya mau tes lagi di seminari St. Paulus Mataloko.’ Setelah tes itu dia lolos, akhirnya masuk kelas persiapan atas (KPA), lanjutan dari SMA. Dari situ dua tahun, dia langsung ke Seminari Tinggi Penfui Kupang. Motivasi kakak itu, karena lihat romo-romo sering pakai jubah putih,jadi dia ingin seperti mereka.” Sambung Pak Ansel.

Keputusan itu tidaklah sederhana, butuh keberanian dan kesediaan memberikan diri.

Kadang kita takut untuk melangkah, padahal yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memulai.

Sebuah Perjalanan Yang Belum Selesai

Menjadi imam bukanlah akhir dari perjalanan. Tahbisan bukanlah garis akhir.

Banyak kehidupan perlu didampingi. Banyak pengalaman yang akan terus membentuk diri. “Waktu di Seminari Tinggi, saat libur kakak pulang ke kampung. Dia pesan ke adik-adik di sekolah minggu, ‘Kalau sudah tamat sekolah SD atau SMP, jangan takut masuk seminari.’ Bapa selalu ingat pesan itu, karena jadi gambaran perjalanan kakak dari awal berani memilih jalan hidupnya. Tapi ingat, itu semua bukan akhir, dari sana perjalanan baru dimulai. Harus bisa hadapi apapun tantangannya.” Kenang Pak Ansel dengan penuh kebanggan.

Dan pada akhirnya, perjalanan menjadi imam bukanlah akhir, tetapi awal untuk terus melangkah dan melayani. Seperti pesan yang selalu diingatkan Pak Ansel, setiap pilihan pasti punya tantangan yang harus dihadapi. Bagi Romo Oswin, panggilan itu adalah perjalanan panjang untuk terus melangkah, dan menjadi cahaya bagi orang-orang yang ditemuinya.

Teruslah melangkah, Kak. Sejauh apapun perjalanan membawamu, setiap langkah yang kau tempuh selalu menjadi kebanggaan kami. Bukan karena jalanmu mudah, tapi karena kau tetap melangkah, meski rintangan menghadang di depan.

Ketika saya melihat Romo Oswin berdiri di depan altar, saya teringat pada sosok yang jauh telah saya kenal sebelum ia mengenakan jubah imam.

Kini ia berdiri di tengah umat dengan penuh tanggung jawab yang lebih besar. Berani tetap percaya ketika perjalanan hidupnya belum sepenuhnya terlihat.

“Jangan Takut, Percaya Saja”.

Kalimat itu menjadi pesan bagi dirinya sendiri untuk terus melangkah ketika perjalanan terasa berat.

Menjadi cahaya, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga menerangi perjalanan

orang-orang yang dipercayakan padanya.

Dari adikmu tersayang, Osin Koba

 

Tentang Penulis: Anjelina Roslin G. Koba. Mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  • Penulis: Anjelina Roslin
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

expand_less