Sudut Pandang: ๐๐๐จ ๐๐๐๐ข
- account_circle Selo Lamatapo
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- visibility 44
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
1/
Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi.
Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu.
“๐๐ฎ๐ข ๐๐ถ๐ข (Pater), selamat pagi.”
Mama Maria Mei, rupanya. Perempuan paruh baya itu menyapa saya sambil tersenyum. Ia bersama tiga umat lain.
“Selamat pagi, Bos,” balas saya sembari menyilakan mereka duduk pada kursi di teras pastoran. Saya amat sering menyapa mereka dengan ‘bos’, ‘mama’, atau ‘bapa’, ‘om’, ‘abang’, ‘no’. Dan mereka sudah tentu membalasnya dengan senyum disusul kalimat, ‘๐ข๐ช, ๐๐ฎ๐ข ๐๐ถ๐ข ๐ฆ๐ธ’.
“Perlu apa ow pagi-pagi ๐ด๐ถ ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฆ-๐ณ๐ข๐ฎ๐ฆ ๐ฏ๐ช?”
“Kami mau ambil surat permandian, ๐๐ถ๐ข (Pater),” balas Mama Maria pelan. Tangan kanannya meletakkan keranjang di lantai.
Saya tersenyum, menjawab ‘oh’ panjang, kemudian mengajak mereka ke kantor paroki untuk urusan tersebut.
2/
Hari Rabu adalah hari pasar Detukeli. Umat separoki Detukeli berbelanja dan mendagangkan hasil kebun, barang-barang kios, hasil tenun, juga menawarkan jasa angkat barang-barang. Para pedagang dari Ende, Manggarai, Wolowaru, Maurole, biasanya datang pula untuk berjualan.
Umat berdatangan dari stasi-stasi yang jauh, yang dibatasi bukit, lembah, kali, dan hutan luas. Karena itu, mereka memanfaatkan pula kesempatan hari Rabu untuk mengambil surat-surat di kantor paroki, menyerahkan iuran-iuran, dan aneka urusan lain di paroki.
Kebetulan, pasar Detukeli berdekatan dengan pastoran. Jadi, hitung-hitung, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampau; sekali pergi, dua-tiga kebutuhan terpenuhi.
Dengan begitu, pastoran paroki Detukeli lumayan ramai tiap Rabu. Biasanya, saya bantu melayani mereka yang hendak mengambil surat-surat. Umumnya, mereka meminta surat baptis untuk urusan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, dan urusan lain. Melayani mereka, saya merasa terpanggil untuk mendengarkan sepenuh hati dan sesabar-sabarnya.
Untuk urusan surat baptis, saya perlu mengetahui nama lengkap, tempat kelahiran, tahun kelahiran, tahun baptis, dan tempat baptis. Oleh karena sudah sering melayani mereka, saya menemukan dua kenyataan:
๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข, generasi muda โ kelahiran 1990-an hingga 2000-an โ pada umumnya mengingat secara baik tahun lahir dan tahun baptis mereka maupun anak-anak mereka. Hal itu memudahkan saya menemukan data baptis mereka secara manual pada buku-buku permandian. Maklum, paroki tua yang akan memasuki usia intan ini menyimpan data-data permandian secara tertulis pada buku.
๐๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข, generasi tua โ kelahiran tahun 1940-an hingga 1970-an โ tidak mengingat sama sekali tahun lahir, apalagi tahun baptis. Mereka hanya menyebut nama lengkap, kemudian mulai menebak-nebak: “๐๐ช, ๐๐ฎ๐ข ๐๐ถ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ ๐ฏ๐ข (Pater, saya tidak tahu).” Ini kalimat pembuka dan akan disusul dengan jawaban lain, “Pater, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang.” Deretan jawaban ini diakhiri dengan senyum-senyum tulus, namun lumayan buat saya pusing.
Tiap kali mendengar jawaban-jawaban itu, saya menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada lemari penuh buku permandian, dan berkata pelan, “Bapa/Mama/Kaka/Bos ๐ฆ๐ธ, coba toleh lihat lemari sana. Buku-buku banyak begitu ๐ต๐ถ kalau ๐ต๐ช ingat tahun lahir atau tahun baptis, maka kita cari ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฆ sore.”
Mereka tak berkomentar, hanya tersenyum tanpa salah. Senyum mereka itu semacam air: teduh dan lumayan menenangkan hati saya yang mulai marah. Setelahnya, saya menarik napas panjang dan mulai mencari data mereka perlahan-lahan. Pencarian ini bermodalkan tahun tebak-tebakan yang mereka utarakan.
3/
Pada mulanya, saya merasa biasa perihal pengalaman tebak-tebak umur itu. Perasaan saya mulai terganggu ketika semakin sering saya mengalami pengalaman yang sama. Saya menganggap pengalaman ini perlu direnungkan dan bila mungkin dapat digali lebih jauh.
Karena itu, tiap kali usai melayani mereka, saya bersandar pada kursi kantor, memandang keluar jendela, dan bertanya pada diri sendiri, kenapa mereka lupa bahkan tidak mengetahui secara persis tahun kelahiran mereka? Sebegitu pentingkah mengingat tahun kelahiran? Kenapa?
Saya bertolak pada jawaban-jawaban mereka untuk bermenung diri.
๐๐๐ง๐ฉ๐๐ข๐, ‘๐๐ ๐ช ๐๐๐๐ค, ๐จ๐๐ฎ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ช.’
Secara sederhana, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ menegaskan bahwa manusia tidak melulu mengetahui segala hal, serentak ia (manusia) pun tak pernah tuntas dipahami.
Dalam hubungan dengan tak mengetahui segala hal, manusia kerap bertanya dan mencari. Para penyair melukiskan situasi-situasi itu dalam syair-syair penuh makna.
Goenawan Mohamad, misalnya, menulis sajak pendek sarat makna berjudul ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฌ ๐๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต, mempertanyakan kebahagiaan. Saya kutip lengkap puisinya.
๐๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต
๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ณ
๐๐ฐ๐ต๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ด๐ข๐ฉ
๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ด๐ช๐ณ,
๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข
๐๐ฆ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ-๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ
๐จ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ด ๐ณ๐ข๐ช๐ฃ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ข
๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข?
Lain halnya Leo Kleden. Secara lebih jauh, ia melukiskan pengembaraan seorang anak manusia mencari tahu nama Dia, Cahaya Mahacahaya, Sosok Sunyi, yakni Tuhan, dalam sajak panjang ๐๐ถ๐ณ๐ข๐ต ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ.
Leo melukiskan pengembaraan dan pencarian nama itu bermula pada suatu pagi dari musim yang sudah ia lupa. Ia ‘ngembara tanpa alamat berbekalkan pertanyaan-pertanyaan. Adakah mereka yang dijumpai (si tua bijaksana, anak-anak di tepi pantai, sepasang anak muda, seorang filsuf, nabi, pendeta di gereja, ahli kitab, penyair, pertapa, para fakir miskin) mengenal nama itu?
Di akhir sajak itu, Leo menggambarkan akhir dari pengembaraan dan pencariannya.
๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ, ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ข๐ถ๐ต ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ โ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ณ๐ต๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ถ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ญ๐ฆ๐ต๐ช๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฎ๐ณ๐ช๐ฉ, ๐ต๐ช๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐จ๐ข ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฃ๐ข: ๐ ๐๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ข๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข, ๐๐ถ๐ฏ๐บ๐ช ๐ด๐ถ๐ค๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ต๐ข, ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ช๐ด๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ, ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ.
Goenawan Mohamad dan Leo Kleden telah menampilkan identitas manusia sebagai makhluk yang tak melulu mengetahui segala hal, yang terus-menerus mencari dan bertanya. Beberapa tanya tak sempat dijawab, mengambang dan dipermainkan anak sungai, lainnya sia-sia. Beberapa yang lain mendapat jawab.
Apa pun itu, hidup menghadapkan anak-anak manusia pada pilihan-pilihan: maju-mundur, jatuh-bangun, diterima-dicampakkan, dan ragam pilihan lain. Siapa pun dia, pilihan-pilihan itu menghantar kita pada kenyataan lain bahwa ia (manusia) tak pernah tuntas dipahami. Sebab, setiap orang, tulis Herman Hesse, berada dalam kesunyiannya masing-masing. Dengan lebih puitis, Chairil Anwar menambahkan, nasib adalah kesunyiaan masing-masing.
Dengan demikian, jawaban ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ menyingkap sisi lain manusia sebagai makhluk sunyi, penuh misteri. Ia hidup, mencari, bertanya, dan menyimpan segalanya: yang penting dan yang tak penting sekalipun, termasuk pentingkah mengingat angka-angka tahun lahir itu?
Tidak penting mengingat itu semua. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ menyadarkan manusia tentang pencarian-pencarian, tak melulu soal mengingat apalagi menghitung angka-angka yang menandai usia panjang atau pendek. Tak selalu tentang itu. Sebab usia lanjut, sebagaimana tertuang dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo, adalah terhormat bukan karena waktunya panjang dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak, melainkan hidup tak bercela, (Bdk. Keb. 4:8-9).
Maka, boleh jadi, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ sedang mengingatkan manusia, bahwa hidup adalah soal sejauh mana engkau berguna bagi orang lain, bukan hanya soal lama atau singkat engkau ada di bumi. Jadi, yang ditanyakan adalah ๐ฌ๐ฐ ๐ด๐ถ buat apa selama ini? Bukan sekadar, ๐ฌ๐ฐ ๐ฑ๐ถ umur berapa?
Pertanyaan itu menjelma dalam pencarian-pencarian. Hingga di suatu hari nanti, entah pagi, entah siang, entah malam, entah musim kemarau atau musim hujan, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba pada pencarianmu. Di titik itu, manusia memahami arti hidup.
๐๐๐๐ช๐, ‘๐๐ ๐ช ๐ก๐๐๐๐ง ๐ฌ๐๐ ๐ฉ๐ช ๐๐ฉ๐ช ๐ข๐ช๐จ๐๐ข ๐๐ช๐๐๐ฃ, ๐ฌ๐๐ ๐ฉ๐ช ๐๐ฉ๐ช ๐๐ช๐ก๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ง๐๐ฃ๐.’
Sebagai lanjutan dari jawaban ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ, jawaban ini menampilkan manusia sebagai sosok yang dapat mengingat segala pengalaman paling dekat dengannya dan segala kebiasaan yang diulang-ulang. Itulah alasan seseorang kerap meratap berlarut-larut lantaran luka kehilangan, atau seorang tampak begitu riang mendapat balasan cinta. Demikian pun dalam konteks jawaban ini, musim hujan, bulan terang, kemarau panjang, musim panen, itu semua dianggap penting dan mendapat tempat dalam ingatan serta melekat erat dalam hati.
Di sisi lain, secara tidak langsung, jawaban itu pun menandaskan bahwa mereka tampak begitu akrab dan dekat dengan alam. Dan saya dapat langsung menebak bahwa mereka ini adalah orang-orang yang membaktikan hidup mereka sebagai petani. Dengan kata lain, kita dapat mengenal orang dari kebiasaan-kebiasaannya.
Lalu?
Musim hujan, musim kemarau, bulan terang, bulan gelap sebagai kenyataan yang diingat, membawa saya pada pemahaman bahwa hidup mereka hanya tentang ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ฆ-๐ญ๐ฆ๐ซ๐ข, siang-malam (hari), ada hasil-tidak ada hasil (kerja). Siang kerja, malam istirahat; begitu berulang-ulang. Ada hasil atau tidak ada hasil adalah buah pengorbanan (kerja). Jadi, apa pentingnya mengingat angka-angka itu?
Mereka terbangun di pagi hari, menyiapkan segalanya, membaktikan diri dalam kerja, kemudian pergi istirahat di malam hari. Esoknya, mereka mengulangi lagi siklus yang sama. Itu yang melekat kuat dalam diri mereka, sehingga di kemudian hari bila ditanya, mereka menjawab pelan, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang. Begitu sederhana, penuh kejujuran.
Albert Camus, Filsuf Prancis, pernah mengkhawatirkan siklus/rutinitas/kebiasaan hidup seperti itu. Kebiasaan yang sama yang diulang-ulang, kata Camus, dapat menimbulkan kejenuhan. Terbangun di pagi hari, menyiapkan diri untuk kerja/aktivitas, pulang di sore hari, lakukan aktivitas rumah, makan, tidur di malam hari, kemudian esoknya, ulangi lagi hal yang sama. Begitu berulang-ulang tiap hari.
Bagi Camus, ketika manusia dipenuhi kejenuhan karena tidak sungguh memahami makna hidup dari setiap rutinitas berulang-ulang itu, ditambah lagi segala keinginan manusia untuk memahami semuanya tapi tidak sungguh terjawab secara seluruh, maka manusia tak sungkan-sungkan mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri. Camus tak menyarankan engkau melakukan cara keji itu, melainkan memintamu untuk tetap mendorong ‘batu kebiasaanmu itu’ dengan kesadaran bahwa hidupmu jauh lebih berguna dan engkau sendiri yang berhak atas hidupmu.
Dalam pengalaman saya, umat paroki Detukeli tak pernah senaif itu. Siklus, rutinitas, kebiasaan-kebiasaan itu dipandang sebagai bagian dari hidup. ๐๐ฐ๐ฃ๐ฆ-๐ญ๐ฆ๐ซ๐ข, terang-gelap, adalah warna hidup. Bahwasanya, hidup tak selalu terang, juga tidak senantiasa gelap. Mereka tetap tumbuh dalam dua warna itu, ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ฆ-๐ญ๐ฆ๐ซ๐ข, di siang hari maupun di malam hari, juga di musim hujan dan kemarau sekalipun.
Dengan demikian, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ dan lanjutannya ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ, ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, sama-sama menegaskan perihal hidup. Bahwa, hidup adalah tentang sejauh mana engkau berguna bagi dirimu, sesamamu, dan Dia Yang Mahasuci yang dikenal sebagai Tuhan. Selebihnya adalah tambahan, termasuk mengingat deretan angka-angka yang ditemukan jauh sebelum mereka lahir. Dan itu tidak terlalu penting bagi mereka yang menjawab ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ, ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
4/
Di kantor, Rabu itu, Mama Maria duduk di hadapan saya. Ia mengambil surat baptis miliknya dan milik suaminya. Umat yang lain duduk di bangku kantor bersandar pada dinding, lainnya menikmati udara pagi di halaman pastoran.
“Mama ๐ฑ๐ถ nama lengkap?”
Ia menyebut namanya dan saya menulis pada kertas.
“Ingat tahun baptis ๐ฌ๐ข, Mama?”
Ia tersenyum.
“Tahun lahir?”
Senyuman itu makin melebar.
“๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฐ, ๐๐ฎ๐ข ๐๐ถ๐ข.”
Saya tersenyum, kami sama-sama tersenyum.*
๐๐ฆ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช, ๐๐ถ๐ญ๐ช 2023
Selo Lamatapo, Pastor SVD yang sedang bermisi di Amzon.
- Penulis: Selo Lamatapo
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar