Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih
- account_circle Redaksi Mataleza
- calendar_month Senin, 13 Jul 2026
- visibility 86
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana ada yang mengalami hal yang sama, silakan dibaca dan semoga tidak menimbulkan memori kelam itu hadir kembali ke permukaan. Selamat membaca.
***
Aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Aku memiliki dua orang saudara laki-laki. Sejak kecil, aku tumbuh dengan dua wajah kasih sayang yang sangat berbeda.
Bapak adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Apa pun yang kubutuhkan, sebisa mungkin ia usahakan ada. Di mataku yang masih kecil, itulah bentuk cinta seorang ayah. Aku merasa aman ketika berada di dekatnya.
Namun, semua itu tidak pernah kutemukan pada mama.
Entah mengapa, mama selalu tampak marah setiap kali melihatku. Aku lebih sering mendengar bentakan daripada kata-kata lembut. Tangannya tidak jarang mencubitku ketika melakukan kesalahan kecil. Bahkan, di depan teman-temanku, mama sering memakiku tanpa memedulikan rasa maluku. Setiap kali itu terjadi, aku hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan air mata. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa kesalahanku.
Sebagai seorang anak, aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Mengapa mama begitu membenci aku?
Mengapa mama bisa begitu hangat kepada saudara-saudaraku, tetapi begitu dingin kepadaku?
Aku berkali-kali mencoba mencari jawabannya. Aku bahkan pernah berpikir mungkin aku memang anak yang nakal, anak yang tidak cukup baik, atau anak yang selalu mengecewakan. Maka aku terus berusaha menjadi anak yang lebih penurut, berharap suatu hari mama akan memelukku dan berkata bahwa ia juga menyayangiku.
Hari itu tidak pernah datang. Hingga aku duduk di bangku SMA, sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Oma memanggilku dan menceritakan semuanya.
Dengan suara yang pelan, ia mengatakan bahwa mama bukan ibu kandungku. Aku adalah anak yang lahir dari hubungan ayah dengan perempuan lain.
Oma juga mengatakan bahwa ketika aku lahir, mama tidak sanggup menerimaku. Bahkan, mama pernah ingin membuangku. Saat itulah bapak mengambilku dan memutuskan untuk merawatku sendiri. Sejak saat itu, aku dibesarkan di rumah yang sama, tetapi dengan luka yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.
Mendengar cerita itu, rasanya seperti seluruh hidupku runtuh dalam sekejap. Semua pertanyaan yang selama bertahun-tahun memenuhi kepalaku akhirnya menemukan jawaban. Bentakan itu. Cubitan itu. Makian di depan orang lain. Tatapan dingin itu. Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal. Aku akhirnya mengerti bahwa kebencian mama bukan benar-benar dimulai dariku.
Aku hanyalah pengingat hidup dari luka yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Sejak mengetahui kenyataan itu, aku sering memandang diriku sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada bagian dalam diriku yang berkata bahwa mungkin memang pantas jika mama tidak pernah bisa menyayangiku. Aku hadir sebagai bukti pengkhianatan yang tidak pernah ia pilih. Aku adalah anak dari perempuan yang hampir menghancurkan keluarganya.
Tetapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa saat semua itu terjadi, aku bahkan belum mampu memilih untuk dilahirkan. Aku tidak pernah meminta menjadi alasan seseorang menangis. Aku tidak pernah meminta menjadi bukti sebuah perselingkuhan. Aku tidak pernah memilih siapa ayah dan ibu yang akan melahirkanku. Aku hanya seorang anak. Seorang anak yang sejak kecil tidak mengerti mengapa pelukan seorang ibu terasa begitu jauh.
Sampai hari ini, aku masih belajar menerima kenyataan itu. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, juga tidak bisa menghapus luka yang pernah dialami mama. Mungkin luka itu terlalu dalam sehingga setiap kali melihatku, yang ia lihat bukanlah seorang anak, melainkan kenangan tentang pengkhianatan yang pernah merobek hidupnya.
Namun, di balik semua itu, ada satu harapan yang masih kusimpan. Semoga suatu hari nanti, mama bisa melihatku bukan sebagai kesalahan orang dewasa, melainkan sebagai seorang anak yang sejak awal hanya ingin dicintai. Karena bagaimanapun, aku tidak pernah memilih dilahirkan dari kisah yang rumit ini. Aku hanya lahir dan sejak kecil, aku hanya ingin menjadi anak yang dipeluk oleh ibunya.
Fian N, Pondok Baca Mataleza Olakile 2026
- Penulis: Redaksi Mataleza
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar