Breaking News
light_mode
Trending Tags

Perjuangan dan Kehilangan dalam Novel Laut Bercerita : Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann

  • account_circle Samuel Piedro Nahak Manewain
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Samuel Piedro Nahak Manewain

Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menggambarkan kehidupan sekelompok anak muda yang berjuang melawan ketidakadilan pada masa pemerintahan Orde Baru. Cerita ini tidak hanya membahas kehidupan pribadi tokoh-tokohnya, tetapi juga memperlihatkan keadaan sosial dan politik yang membuat mereka harus menghadapi ancaman. Melalui tokoh Biru Laut dan kawan-kawannya, kita diajak memahami bahwa perjuangan untuk menyampaikan pendapat dapat membawa risiko besar. Novel ini dikaji menggunakan teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann karena teori tersebut menghubungkan karya sastra dengan kehidupan masyarakat yang melatarbelakanginya.

Menurut Lucien Goldmann, karya sastra tidak lahir begitu saja dari pikiran pengarang. Karya sastra berhubungan dengan keadaan sosial, sejarah, dan cara pandang suatu kelompok masyarakat. Goldmann menyebut cara pandang tersebut sebagai pandangan dunia. Dalam pendekatan ini, peneliti tidak hanya melihat tokoh, alur, dan konflik di dalam cerita, tetapi juga mencari hubungan antara unsur-unsur cerita dan kenyataan sosial. Goldmann juga menjelaskan bahwa karya sastra dapat mewakili pengalaman suatu kelompok, bukan hanya pengalaman pribadi pengarang. Oleh karena itu, tokoh-tokoh dalam Laut Bercerita dapat dibaca sebagai gambaran kelompok anak muda yang menginginkan perubahan dan keadilan.

Salah satu hal penting dalam novel ini adalah perjuangan Biru Laut dan teman-temannya. Mereka terlibat dalam kegiatan diskusi, membaca, menulis, dan menyebarkan gagasan yang mengkritik keadaan politik. Bagi mereka, menyampaikan pendapat merupakan bagian dari usaha memperjuangkan hak masyarakat. Mereka tidak ingin diam ketika melihat ketidakadilan. Namun, tindakan tersebut membuat mereka berhadapan dengan kekuasaan yang berusaha membatasi kebebasan berbicara. Konflik ini menunjukkan pertentangan antara kelompok yang menginginkan kebebasan dan pihak yang ingin mempertahankan kendali. Jika dilihat melalui teori Goldmann, pertentangan tersebut memperlihatkan pandangan dunia kelompok muda yang percaya bahwa masyarakat yang lebih adil perlu diperjuangkan bersama.

Tokoh Biru Laut juga menunjukkan bahwa perjuangan politik bukan hanya soal gagasan besar, melainkan juga soal hubungan manusia. Ia memiliki keluarga, sahabat, dan orang-orang yang menyayanginya. Ketika ia dan kawan-kawannya mengalami penangkapan serta kekerasan, perjuangan mereka meninggalkan luka bagi orang-orang terdekat. Keluarga yang menunggu kabar hidup dalam ketidakpastian, sedangkan sahabat-sahabatnya harus menghadapi rasa takut dan kehilangan. Melalui bagian ini, novel tersebut memperlihatkan dampak kekuasaan yang tidak berhenti pada orang yang menjadi korban, tetapi juga menyentuh keluarga dan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, pengalaman tokoh menjadi jalan untuk memahami penderitaan yang dialami masyarakat pada masa tersebut.

Dalam strukturalisme genetik, pengalaman tokoh-tokoh itu dapat dikaitkan dengan struktur sosial pada masa Orde Baru. Ketika kebebasan menyampaikan pendapat dibatasi dan orang-orang yang kritis menghadapi ancaman, muncul ketegangan antara individu atau kelompok masyarakat dan penguasa. Struktur konflik dalam novel memiliki hubungan dengan keadaan sosial tersebut. Artinya, konflik cerita bukan sekadar dibuat untuk menegangkan alur, tetapi juga membantu menggambarkan persoalan yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Hubungan antara struktur cerita dan struktur sosial inilah yang dapat disebut sebagai kesesuaian atau homologi. Melalui cerita tentang penindasan, kehilangan, dan usaha mencari kebenaran, kita dapat melihat bagaimana situasi politik memengaruhi kehidupan manusia.

Pandangan dunia yang terlihat dalam novel ini adalah keyakinan bahwa kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan merupakan hal yang layak diperjuangkan. Tokoh-tokohnya tidak digambarkan sebagai orang yang tidak pernah takut. Mereka justru mengalami rasa takut, keraguan, dan kelelahan, tetapi tetap berusaha mempertahankan keyakinan mereka. Hal tersebut membuat perjuangan dalam novel terasa dekat dengan kehidupan manusia. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan tetap berusaha melakukan sesuatu yang dianggap benar meskipun ada risiko. Pandangan dunia ini juga tampak dalam usaha keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan untuk terus mencari informasi serta menuntut kejelasan mengenai nasib mereka yang hilang.

Selain itu, laut dalam judul novel dapat dimaknai sebagai lambang ingatan, kehilangan, dan suara yang terus berusaha muncul. Laut terlihat luas dan menyimpan banyak hal di dalamnya. Secara simbolis, gambaran tersebut sejalan dengan pengalaman orang-orang yang hilang dan keluarga yang belum mendapatkan jawaban. Namun, makna simbol ini sebaiknya dipahami sebagai hasil penafsiran terhadap cerita, bukan satu-satunya arti yang pasti. Judul Laut Bercerita seolah mengingatkan pembaca bahwa pengalaman para korban tidak seharusnya dilupakan. Kisah mereka perlu terus diceritakan agar masyarakat dapat memahami akibat kekerasan dan pentingnya menghargai hak asasi manusia.

Melalui teori Lucien Goldmann, Laut Bercerita dapat dipahami sebagai karya sastra yang menghubungkan pengalaman tokoh dengan keadaan sosial dan sejarah Indonesia. Biru Laut dan teman-temannya menggambarkan kelompok muda yang memiliki harapan akan perubahan, sedangkan konflik mereka memperlihatkan benturan antara perjuangan memperoleh keadilan dan kekuasaan yang menekan kebebasan. Cerita ini juga menunjukkan bahwa kekerasan politik menimbulkan penderitaan panjang bagi korban dan keluarga mereka. Dengan bahasa cerita yang menyentuh, novel ini mengajak pembaca untuk tidak memandang peristiwa sejarah sebagai angka atau catatan semata, melainkan sebagai pengalaman manusia. Pada akhirnya, novel ini menegaskan pentingnya keberanian, solidaritas, dan ingatan kolektif agar ketidakadilan tidak dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

 

  • Penulis: Samuel Piedro Nahak Manewain
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wanibesak, 5 September 2000: Ketika Sebuah Kampung Menyimpan Ingatan tentang Kehilangan

    Wanibesak, 5 September 2000: Ketika Sebuah Kampung Menyimpan Ingatan tentang Kehilangan

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Marselina Ardia Simenes
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Oleh: Marselina Ardia Simenes Menelusuri memori kolektif masyarakat Wanibesak melalui cerita keluarga, pengalaman pengungsian, dan ingatan yang diwariskan antargenerasi. Kampung yang Menyimpan Sebuah Peristiwa Setiap kampung memiliki cerita yang menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakatnya. Cerita tersebut tidak selalu tersimpan dalam buku sejarah atau dokumen tertulis, tetapi juga diwariskan melalui percakapan keluarga, kesaksian orang tua, […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Tragedi Hillsborough dalam Ingatan Seorang Ibu

    Tragedi Hillsborough dalam Ingatan Seorang Ibu

    • calendar_month 11 jam yang lalu
    • account_circle Patricius Aldi Bima Ariawan
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh : Patricius Aldi Bima Ariawan Sejarah kelam biasanya tidak berhenti pada hari peristiwa itu terjadi. Ia terus hidup dalam cara masyarakat mengingat, melupakan, dan memperdebatkan maknanya. Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989, yang menewaskan 97 suporter Liverpool, adalah contoh nyata. Selama lebih dari tiga dekade, tragedi ini bukan hanya soal bagaimana orang meninggal di […]

  • Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Agustinus Edy Kristanto
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Oleh: Agustinus Edy Kristanto Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat. Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari. Ada baiknya saya jelaskan begini. Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya […]

  • Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 197
    • 3Komentar

    Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya. Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan? Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang […]

  • Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Alfina Shalsa Damayanti
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Oleh: Alfina Shalsa Damayanti – Esai Kajian Sastra Indonesia. Universitas Sanata Dharma Penindasan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam kehidupan sosial, penindasan juga dapat berlangsung melalui nilai, norma, dan pandangan yang menentukan bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Ketika perempuan dituntut untuk patuh, menerima keputusan laki-laki, dan mempertahankan kehormatan berdasarkan ukuran yang ditentukan […]

expand_less