Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pita Kuning yang Tak Terlupakan: Memori Kolektif Tragedi Feri Sewol dalam Masyarakat Korea Selatan

  • account_circle Regina Alexandria Wulandari
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Regina Alexandria Wulandari

Ada kalanya sebuah benda sederhana menyimpan ingatan yang jauh lebih besar daripada bentuknya. Pita kuning, misalnya, hanyalah sepotong pita yang dapat diikatkan, ditempelkan, atau dikenakan pada tubuh. Namun, di Korea Selatan, pita kuning memperoleh makna mendalam setelah tragedi tenggelamnya Feri Sewol pada 16 April 2014. Benda sederhana tersebut menjadi simbol untuk mengenang para korban, menyampaikan duka, dan menunjukkan solidaritas kepada keluarga yang ditinggalkan. Di balik bentuknya yang sederhana, pita kuning menyimpan ingatan tentang kehilangan yang tidak mudah dihapus oleh berlalunya waktu.

Tragedi Feri Sewol menewaskan 304 orang, termasuk 250 siswa dan 11 guru dari Danwon High School di Ansan yang sedang melakukan perjalanan sekolah menuju Pulau Jeju. Peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengguncang masyarakat Korea Selatan dan memunculkan pertanyaan mengenai keselamatan penumpang, penanganan keadaan darurat, serta tanggung jawab pihak-pihak yang berkaitan dengan bencana. Bagi keluarga korban, tenggelamnya kapal itu menjadi kehilangan yang mengubah kehidupan mereka. Bagi masyarakat yang menyaksikan tragedi melalui pemberitaan, peristiwa tersebut memunculkan kesedihan, kemarahan, dan ketidakberdayaan.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, ingatan tentang Sewol tetap hadir melalui pita kuning, kesaksian keluarga korban, kegiatan peringatan, dan berbagai bentuk ekspresi publik. Kehadirannya memperlihatkan bahwa suatu peristiwa tidak selalu berakhir ketika kejadian itu selesai. Ada pengalaman yang terus hidup dalam ingatan, diperdebatkan di ruang publik, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui pita kuning, tragedi Sewol memperlihatkan bagaimana sebuah simbol sederhana dapat menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat sekaligus mengingatkan bahwa cara suatu peristiwa dikenang turut menentukan maknanya bagi kehidupan masa kini.

Pita Kuning sebagai Simbol Ingatan

Makna pita kuning tidak hanya terletak pada warna atau bentuknya, tetapi juga pada tindakan masyarakat yang menggunakannya untuk mengenang korban dan menyuarakan kepedulian. Setelah tragedi Sewol, pita kuning digunakan dalam kegiatan peringatan dan aksi publik. Simbol tersebut menjadi tanda penghormatan kepada para korban sekaligus berkaitan dengan tuntutan agar penyebab dan penanganan tragedi diselidiki. Dengan demikian, pita kuning tidak hanya menyampaikan kesedihan, tetapi juga memperlihatkan bahwa mengenang dapat menjadi tindakan sosial yang mengandung tuntutan akan kebenaran dan pertanggungjawaban.

Di balik angka 304 terdapat kehidupan yang tidak dapat dirangkum oleh statistik. Para siswa yang menjadi korban memiliki keluarga, sahabat, kebiasaan, dan cita-cita. Para guru, penumpang, serta awak kapal lainnya juga mempunyai kehidupan dan hubungan dengan orang-orang yang menantikan kepulangan mereka. Ketika tragedi hanya dikenang melalui jumlah korban, kehidupan individual mereka berisiko kehilangan tempat dalam cerita yang lebih besar.

Pita kuning membantu mengingatkan masyarakat pada sisi manusiawi tersebut. Simbol itu tidak dapat menggantikan kisah setiap korban, tetapi dapat membuka ruang untuk mengingat bahwa mereka bukan sekadar bagian dari sebuah bencana. Ada keluarga yang kehilangan anak, orang tua, saudara, atau sahabat. Ada pula masa depan yang tidak sempat terwujud. Mengingat Sewol berarti menyadari bahwa di balik sebuah peristiwa sejarah terdapat kehidupan manusia yang memiliki arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Ingatan tentang Sewol tidak hanya hidup dalam diri orang-orang yang mengalami tragedi tersebut secara langsung. Ingatan itu juga tumbuh melalui cerita yang dibagikan, kesaksian keluarga korban, pemberitaan, dokumentasi, dan kegiatan peringatan.

Ketika pengalaman yang semula bersifat pribadi mulai dipahami dan diingat bersama, tragedi Sewol menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat. Dalam proses ini, pita kuning menjadi penghubung antara kehilangan yang dialami keluarga korban dan kesadaran masyarakat yang lebih luas.

Namun, memori kolektif tidak berarti seluruh masyarakat mempunyai ingatan atau pandangan yang sama. Setiap orang dapat memaknai tragedi melalui pengalaman dan penafsiran yang berbeda.

Sebagian orang mungkin lebih menekankan penghormatan kepada korban, sedangkan yang lain melihat tragedi tersebut melalui persoalan keselamatan dan pertanggungjawaban, Perbedaan itu menunjukkan bahwa ingatan kolektif bukanlah sesuatu yang terbentuk sekali lalu menetap, melainkan terus berkembang melalui cara masyarakat membicarakan, memperingati, dan memahami masa lalu.

Dari Kehilangan Pribadi Menjadi Ingatan Bersama

Bagi keluarga korban, tragedi Sewol bukan sekadar peristiwa yang dikenang setiap tanggal 16 April. Kehilangan itu terus hadir dalam kehidupan sehari-hari, melalui kenangan tentang orang yang mereka cintai dan kesadaran bahwa orang tersebut tidak akan kembali. Setelah tragedi itu, kehidupan keluarga yang ditinggalkan turut mengalami perubahan. Hubungan dengan orang-orang di sekitar mereka, dukungan yang diterima, dan cara masyarakat memahami kesedihan mereka menjadi bagian dari pengalaman yang harus dihadapi. Kehilangan tersebut tidak selalu mudah dipahami oleh orang lain, sebab dukungan dan simpati masyarakat tidak sepenuhnya dapat menggantikan kehadiran orang yang telah tiada.

Pengalaman keluarga korban berbeda dari pengalaman masyarakat yang mengenal tragedi tersebut melalui media. Masyarakat mungkin menyaksikan pemberitaan ketika kapal tenggelam, mengikuti perkembangan penyelamatan, atau mengetahui kisah para korban setelah peristiwa berlalu. Keluarga korban, sebaliknya, harus menjalani kehidupan setelah kehilangan orang terdekat. Perbedaan pengalaman ini perlu diperhatikan agar solidaritas masyarakat tidak disamakan dengan pengalaman duka yang dialami secara langsung.

Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak menghalangi terbentuknya ingatan bersama. Ketika keluarga korban menyampaikan kesaksian dan masyarakat bersedia mendengarkan, pengalaman yang semula bersifat pribadi dapat memperoleh tempat dalam kehidupan sosial. Kegiatan peringatan dan penggunaan pita kuning menjadi cara untuk menunjukkan bahwa tragedi tersebut tidak hanya menjadi urusan keluarga yang kehilangan, tetapi juga persoalan yang perlu diperhatikan masyarakat.

Akan tetapi, solidaritas tidak cukup ditunjukkan melalui simbol. Seseorang dapat mengenakan pita kuning sebagai bentuk penghormatan, tetapi tindakan tersebut tidak otomatis membuatnya memahami seluruh pengalaman keluarga korban. Kepedulian yang lebih bermakna membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, memahami kebutuhan keluarga yang ditinggalkan, dan menghormati perjuangan mereka dalam mencari kejelasan.

Dengan demikian, ingatan bersama tumbuh melalui hubungan antara pengalaman pribadi dan kehidupan sosial. Kesaksian keluarga korban dapat membantu masyarakat memahami tragedi secara lebih mendalam, sedangkan dukungan masyarakat dapat menunjukkan bahwa keluarga korban tidak sepenuhnya menghadapi kehilangan mereka sendiri. Hubungan ini tidak menghapus duka, tetapi memberikan ruang agar pengalaman mereka tetap menjadi bagian dari ingatan bersama.

Ingatan, Negara, dan Perebutan Makna

Ingatan tentang suatu tragedi tidak hanya terbentuk melalui hubungan antara keluarga korban dan masyarakat. Cara negara dan lembaga publik menjelaskan suatu peristiwa juga dapat memengaruhi bagaimana peristiwa tersebut dipahami.

Negara memiliki peran dalam menyampaikan informasi, melakukan penyelidikan, menentukan kebijakan, dan menjelaskan tanggung jawab atas suatu bencana. Namun, penjelasan resmi tidak selalu menjawab seluruh pertanyaan atau memenuhi harapan orang-orang yang terdampak.

Dalam tragedi Sewol, pertanyaan mengenai penyebab bencana, proses penyelamatan, dan pertanggungjawaban menjadi bagian penting dari ingatan publik. Bagi keluarga korban, mengenang tidak hanya berarti mempertahankan nama dan kisah orang yang telah meninggal. Mengingat juga berkaitan dengan perjuangan memperoleh kejelasan mengenai apa yang terjadi dan mengapa begitu banyak nyawa tidak berhasil diselamatkan. Karena itu, tuntutan keluarga korban tidak dapat dipahami semata-mata sebagai ungkapan kesedihan, melainkan juga sebagai usaha memperoleh jawaban dan pertanggungjawaban.

Respons pemerintah Korea Selatan setelah tragedi Sewol tidak sepenuhnya memenuhi harapan sebagian keluarga korban.

Meskipun berbagai upaya penyelidikan telah dilakukan dan kompensasi diberikan, sebagian keluarga masih merasa bahwa tuntutan mereka untuk memperoleh penyelidikan independen belum terpenuhi.

Keadaan ini memperlihatkan bahwa bagi keluarga korban, persoalan Sewol tidak berhenti pada kehilangan orang yang mereka cintai, tetapi juga berkaitan dengan perjuangan memperoleh kejelasan mengenai peristiwa tersebut.

Hubungan antara keluarga korban dan negara dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan penanganan bencana, tetapi juga dengan pengakuan terhadap pengalaman korban serta hak mereka menyampaikan tuntutan. Bagi keluarga yang kehilangan orang terdekat, kegiatan peringatan bukan semata-mata cara mengenang masa lalu. Peringatan juga dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan tanggung jawab dan memastikan bahwa pengalaman mereka tidak diabaikan.

Perdebatan mengenai pita kuning memperlihatkan persoalan tersebut dengan lebih jelas. Bagi keluarga korban dan para pendukungnya, pita kuning merupakan simbol penghormatan sekaligus bentuk dukungan terhadap tuntutan akan kebenaran. Namun, dalam perdebatan publik setelah tragedi, simbol tersebut juga dipandang oleh sebagian pihak sebagai simbol anti-pemerintah. Perbedaan pemaknaan ini menunjukkan bahwa pita kuning tidak hanya berkaitan dengan duka, tetapi juga dengan pertentangan mengenai cara tragedi Sewol dipahami dan bagaimana tuntutan keluarga korban ditanggapi.

Perbedaan tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa mengenang sebuah tragedi bukanlah proses yang selalu berjalan searah. Keluarga korban berusaha mempertahankan ingatan melalui kesaksian dan tuntutan pertanggungjawaban, sementara pihak lain dapat memiliki penekanan atau penafsiran berbeda terhadap tragedi tersebut.

Akibatnya, bagian-bagian tertentu dari peristiwa dapat terus dibicarakan, sedangkan pengalaman lain berisiko kurang memperoleh perhatian.

Menjaga memori kolektif bukan berarti menolak setiap penjelasan resmi ataupun menerima seluruh pernyataan tanpa pemeriksaan. Yang diperlukan adalah ruang bagi bukti, kesaksian, dan pertanyaan kritis agar pengalaman korban tidak diabaikan. Masyarakat perlu memiliki kesempatan untuk memahami apa yang terjadi, mendengarkan orang-orang yang terdampak, dan menilai tanggung jawab berbagai pihak secara bertanggung jawab.

Pita kuning menjadi bermakna dalam konteks ini karena menghubungkan penghormatan kepada korban dengan tuntutan agar tragedi tersebut tidak kehilangan konteks sejarahnya. Simbol itu mengingatkan bahwa mengenang tidak harus berhenti pada duka, tetapi dapat menjadi dorongan untuk mencari kejelasan dan mempertahankan perhatian terhadap tanggung jawab publik.

Ketika Tidak Semua Ingatan Mendapat Ruang yang Sama

Ingatan tentang tragedi Sewol tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh seluruh masyarakat Korea Selatan. Dukungan terhadap keluarga korban dan tuntutan untuk mengungkap kebenaran berhadapan dengan respons yang berbeda, termasuk penolakan dan ekspresi kebencian terhadap gerakan solidaritas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tragedi Sewol bukan hanya menjadi sumber duka, tetapi juga ruang pertentangan mengenai bagaimana penderitaan korban seharusnya dipahami dan ditanggapi.

Pita kuning dapat dimaknai sebagai tanda empati dan penghormatan kepada korban. Namun, ketika simbol tersebut menghadapi penolakan, tindakan mengenang juga menjadi bagian dari konflik sosial. Yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan ingatan, melainkan juga pengakuan terhadap pengalaman dan tuntutan orang-orang yang berusaha mempertahankannya. Dengan demikian, ingatan kolektif tidak hanya berkaitan dengan peristiwa yang dikenang, tetapi juga dengan siapa yang memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman dan penafsirannya.

Persoalan lain muncul ketika perhatian publik terhadap tragedi mulai berkurang. Sebuah peristiwa yang pernah memenuhi pemberitaan dapat perlahan kehilangan tempat di tengah berbagai persoalan baru. Namun, berkurangnya perhatian masyarakat tidak berarti bahwa penderitaan keluarga korban telah berakhir. Bagi mereka yang kehilangan orang terdekat, tragedi Sewol tetap menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang terus memperoleh ruang untuk didengar. Apakah pengalaman keluarga korban tetap menjadi perhatian setelah peringatan tahunan selesai? Apakah kesaksian mereka dipahami sebagai bagian penting dari sejarah, atau hanya kembali muncul ketika tragedi menjadi pemberitaan? Pertanyaan ini mengingatkan bahwa tidak semua penalaman memperoleh perhatian yang sama. Ada kisah yang terus dibicarakan, sementara kisah lain berisiko tersisih seiring berjalannya waktu.

Angka korban diperlukan untuk memahami besarnya bencana, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan kehidupan setiap orang yang meninggal dan penderitaan keluarga yang ditinggalkan. Begitu pula, pita kuning dapat mempertahankan perhatian terhadap tragedi, tetapi simbol tersebut tidak dapat menggantikan kesaksian orang-orang yang mengalami kehilangan secara langsung. Jika masyarakat hanya mempertahankan simbol tanpa mendengarkan kisah di baliknya, ingatan berisiko kehilangan sisi manusiawinya.

Karena itu, menjaga memori kolektif Sewol membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan peringatan. Masyarakat perlu memberi ruang bagi keluarga korban dan penyintas untuk menyampaikan pengalaman mereka, sekaligus memeriksa fakta secara bertanggung jawab. Mendengarkan tidak berarti menerima setiap pernyataan tanpa pertimbangan, tetapi memastikan bahwa pengalaman orang-orang yang terdampak tidak diabaikan hanya karena perhatian publik telah beralih.

Pita kuning menjadi bermakna ketika simbol tersebut mengingatkan masyarakat untuk kembali kepada manusia yang diwakilinya. Ia bukan pengganti suara korban, melainkan pengingat bahwa kisah mereka perlu terus didengar dan dipahami.
Agar Ingatan Tidak Ikut Tenggelam
Pita kuning memperlihatkan bahwa sebuah benda sederhana dapat menyimpan persoalan kemanusiaan yang besar. Di baliknya terdapat kehilangan para korban, kesedihan keluarga, solidaritas masyarakat, dan tuntutan untuk memahami tragedi Sewol secara bertanggung jawab. Maknanya tidak hanya terletak pada warna atau bentuknya, tetapi juga pada tindakan manusia yang terus menghubungkannya dengan ingatan tentang para korban.

Mengingat tragedi Sewol bukan berarti masyarakat harus terus hidup dalam kesedihan. Mengingat berarti mengakui bahwa berlalunya waktu tidak otomatis menghapus dampak sebuah peristiwa.

Keluarga korban tetap menjalani kehidupan dengan kehilangan yang mereka alami, sedangkan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mempelajari apa yang terjadi dan mempertimbangkan pelajaran yang dapat diambil darinya.

Ingatan juga penting untuk menjaga martabat para korban. Mereka bukan sekadar angka dalam catatan kecelakaan, melainkan manusia yang memiliki kehidupan, hubungan, dan masa depan. Mengenang mereka berarti mempertahankan kesadaran bahwa keselamatan manusia tidak boleh dianggap remeh dan bahwa setiap kehilangan memiliki arti bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Pita kuning mungkin tidak dapat mengembalikan mereka yang telah tiada. Simbol tersebut juga tidak dengan sendirinya menjamin bahwa tragedi serupa tidak akan terjadi lagi. Namun, pita kuning dapat mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang biasa dan mudah dilupakan. Ingatan perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan, memeriksa fakta, mempertanyakan tanggung jawab, dan memperhatikan keselamatan manusia.
Laut mungkin kembali tampak tenang, kapal-kapal mungkin kembali berlayar, dan kehidupan masyarakat terus bergerak maju. Namun, ketenangan itu tidak berarti bahwa seluruh pertanyaan telah terjawab atau semua kehilangan telah selesai. Di antara kehidupan yang berlanjut, pita kuning tetap menjadi pengingat bahwa ada masa lalu yang perlu dipahami, bukan sekadar ditinggalkan.

Memori kolektif tragedi Sewol pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana masyarakat Korea Selatan mengenang sebuah kapal yang tenggelam. Ia juga tentang bagaimana masyarakat menjaga ruang bagi penderitaan orang lain, mempertahankan kesaksian yang penting, dan mencegah ingatan tentang korban hilang di tengah perubahan zaman. Pita kuning menjadi lambang bahwa mengingat bukan sekadar mengetahui bahwa suatu peristiwa pernah terjadi, melainkan juga mempertahankan makna kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.

Sebab, yang seharusnya tidak tenggelam bersama kapal itu bukan hanya nama dan kisah para korban, melainkan juga kesadaran bahwa setiap kehidupan layak dilindungi dan setiap kehilangan patut didengar. Selama pita kuning masih mengingatkan masyarakat pada kesadaran tersebut, tragedi Sewol akan tetap memiliki tempat dalam ingatan bersama, bukan sebagai luka yang terus dipertontonkan, melainkan sebagai pengingat akan tanggung jawab manusia terhadap manusia lainnya.

  • Penulis: Regina Alexandria Wulandari
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 382
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 286
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Yesi Kristiani
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Oleh: Yesi Kristiani Cerita sederhana tentang seorang kakak yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupku. Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak selalu kita sadari kehadirannya, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Bagiku sosok kakak Sinta sangat berarti dalam setiap perjalanan ku, terutama ketika saya dapat dukungan dari kedua […]

expand_less