Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

  • account_circle Angeliq Fransisca Juanna
  • calendar_month 22 jam yang lalu
  • visibility 96
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Angeliq Fransisca Juanna

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Perempuan yang Menjadi Rumah

Bagi sebagian orang, keluarga mungkin selalu berarti ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan bentuk yang sama. Ada kalanya seseorang tumbuh dan menemukan sosok keluarga dalam diri orang lain. Bagi saya, sosok itu adalah tante saya, Dorothea Rangkoli.

Dorothea Rangkoli adalah seorang perempuan berusia 40 tahun yang bekerja sebagai seorang guru ASN di Merauke, Papua Selatan. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, disiplin, pekerja keras, serta memiliki pendirian yang kuat. Selama bertahun-tahun, kehidupannya banyak dihabiskan untuk menjalankan tugas sebagai seorang guru Bimbingan dan Konseling di Jenjang SMA. Selain itu, menjadi pendidik, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan dan memiliki kehidupan keagamaan yang kuat.

Namun, bagi saya, tante bukan hanya seorang guru yang berdiri di depan siswa atau seorang ASN yang menjalankan pekerjaannya. Ia adalah seseorang yang telah menjadi bagian terbesar dalam perjalanan hidup saya. Sejak saya masih duduk di taman kanak-kanak, saya dititipkan oleh mama untuk tinggal bersama tante. Sejak saat itu, kehidupan saya banyak berjalan bersamanya. Kurang lebih selama 14 tahun, saya tumbuh dan belajar mengenal kehidupan di bawah didikan seorang perempuan yang bagi saya memiliki karakter keras, tetapi menyimpan kelembutan yang tidak selalu terlihat.

Belajar Mandiri Sejak Kecil 

Sejak kecil, tante membiasakan saya untuk melakukan banyak hal sendiri. Ia mengajarkan saya memasak, mencuci, membersihkan rumah, serta bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya ambil. Bagi tante, hidup tidak boleh dijalani dengan terus bergantung kepada orang lain. Cara mendidiknya memang tidak selalu lembut. ia memiliki karakter yang tegas dan terkadang keras. Ketika saya melakukan kesalahan, ia tidak selalu memberikan penghiburan terlebih dahulu. Sebaliknya, ia mengajarkan saya untuk memahami kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa kemandirian bukan sekedar kemampuan melakukan pekerjaan rumah. Kemandirian juga berarti berani menghadapi konsekuensi dari pilihan sendiri. Didikan tersebut perlahan membentuk kepribadian saya. Saya tumbuh menjadi seseorang yang lebih mandiri, bertanggung jawab, disiplin, dan terbiasa menghadapi masalah sendiri. Meskipun terkadang cara didikan itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap perkataan atau sikap orang lain, saya menyadari bahwa banyak bagian dari diri saya hari ini terbentuk dari kehidupan bersama tante.

Ia seperti seseorang yang sedang mempersiapkan saya untuk menghadapi dunia yang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan.

Perjalanan Seorang Perempuan yang Memilih Jalannya Sendiri 

Jauh sebelum menjadi seorang guru ASN, tante juga pernah berada pada tahap ketika ia harus menentukan arah kehidupannya sendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, keluarga besar menawarkan kepadanya kesempatan tersebut dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Keputusan itu menjadi salah satu bagian penting salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana hingga melanjutkan pendidikan magister. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kembali ke Merauke dan mengikuti ujian untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil.

Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Ia diterima sebagai ASN dan kemudian menjalani profesinya sebagai seorang guru. Selain menjadi guru, tante juga pernah memiliki pengalaman sebagai seorang dosen di Universitas Musamus di Merauke. Berbagai pengalaman tersebut membuat perjalanan hidupnya tidak hanya berkutat pada satu pekerjaan. Ia terus belajar, bekerja, dan mengambil kesempatan yang datang kepadanya.

Sejak muda, tante dikenal menyukai kehidupan yang memberikan kebebasan dan pengalaman. Namun, kebebasan yang ia jalani bukan berarti hidup tanpa arah. Justru dari perjalanan tersebut terlihat bahwa ia memiliki keinginan untuk menentukan hidupnya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya.

Kini, usia 40 tahun, tante masih menjalani kehidupannya sebagai seorang perempuan lajang. Status tersebut membuatnya kerap kali menjadi perhatian keluarga besar maupun orang-orang di sekitarnya. Karena belum menikah, banyak orang menganggap tante sebagai seseorang yang selalu bisa diandalkan untuk melakukan berbagai pekerjaan dan membantu kebutuhan keluarga. Di satu sisi, ia memang mampu menjalankan banyak tanggung jawab. Tetapi bagi saya, ada sisi lain yang sering kali tidak terlihat: menjadi seseorang yang selalu dianggap kuat juga berarti sering kali harus menanggung banyak hal seorang diri.

Menjadi Guru, Menjadi Keluarga 

Tante menjalani kehidupannya sebagai seorang guru Bimbingan dan Konseling. Pekerjaan tersebut membuatnya berhadapan dengan banyak siswa dan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Sebagai seorang pendidik, ia tidak hanya menjalani tugas pekerjaan, tetapi juga memiliki perhatian terhadap kehidupan dan perkembangan orang lain. Hal yang sama juga saya rasakan dalam kehidupan saya bersamanya.

Ketika orang tua saya tidak selalu berada di sisi saya, tante mengambil peran yang sangat besar dalam kehidupan saya. Ia membantu memenuhi kebutuhan saya, memberikan pendidikan, memberikan nasihat, dan menemai saya melewati berbagai tahap kehidupan. Ia bukan hanya seorang yang membantu saya secara materi, tetapi juga menjadi tempat saya belajar tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.

Tanpa banyak disadari, tante telah menjalani peran yang lebih besar daripada sekedar seorang tante. Dalam kehidupan saya, ia mampu mengambil peran seperti seorang ayah sekaligus ibu. Saya mengenalnya bukan hanya ketika ia sedang tersenyum atau memberi nasihat. Saya juga mengenalnya ketika ia sedang lelah, marah, keras kepala atau memiliki pendirian yang sulit digoyahkan. Tinggal bersama seseorang selama bertahun-tahun membuat saya memahami bahwa manusia tidak hanya memiliki satu sisi.

Dibalik sifatnya yang keras, tante memiliki sisi yang lembut. Ia suka membantu orang lain dan memiliki kepedulian terhadap keluarga. Hanya saja, kepedulian itu terkadang hadir dalam bentuk yang tegas. Ia mungkin tidak selalu menunjukan kasih sayang melalui kata-kata yang lembut, tetapi lebih sering menunjukkan melalui tindakan. Bagi saya, itulah cara tante mencintai.

Mental Baja yang Dibentuk dari Kehidupan

Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa hidup bersama tante telah memberikan pengaruh besar terhadap diri saya. Banyak sikap yang saya miliki sekarang berasal dari kebiasaan dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak saya kecil. Saya belajar bahwa seorang perempuan tidak harus selalu bergantung kepada orang lain. Seorang perempuan dapat memiliki pendidikan, pekerjaan, pendirian, dan kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Tante juga mengajarkan saya bahwa menghadapi kehidupan membutuhkan ketangguhan. Masalah tidak selalu dapat dihindari. Ada saatnya seseorang harus berdiri dan mencari jalan keluar meskipun tidak ada orang yang dapat membantu. Dulu, mungkin saya hanya menganggap sikap keras tante sebagai bagian dari sifatnya. Namun, semakin daya bertumbuh, saya mulai melihatnya sebagai salah satu bentuk persiapan. Ia seolah ingin membentuk saya menjadi seseorang yang mampu bertahan ketika suatu hari nanti saya harus menjalani kehidupan tanpa dirinya.

Didikan itu membuat saya memiliki apa yang saya sebut sebagai “mental baja”. Saya tidak selalu berhasil menjadi kuat. Ada kala saya tetap merasa takut, bingung, sensitif, atau tidak tahu harus berbuat apa. Namun, ketika menghadapi masalah, saya selalu teringat pada berbagai pelajaran yang diberikan tante. Ia mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah.

Sosok yang Akan Selalu Saya Hormati

Dari sekian banyak hal yang tante ajarkan kepada saya, ada satu nasihat yang paling saya ingat: selalu libatkan Tuhan dalam perjalanan hidupmu. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi saya, kalimat itu memiliki arti yang besar karena saya mendengarkannya berulang kali dari seorang yang telah melalui begitu banyak pengalaman dalam hidupnya.

Tante mengajarkan saya tentang kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja keras, dan keberanian dalam menghadapi kehidupan. Tetapi lebih dari itu, ia mengajarkan saya untuk tetap memiliki pegangan ketika kehidupan terasa sulit. Kini saya telah sampai pada masa kuliah.

Saya mulai menjalani kehidupan saya sendiri, bertemu orang-orang baru, menghadapi masalah yang berbeda, dan belajar mengambil keputusan. Dalam proses itu, saya mulai menjalani kehidupan saya sendiri, bertemu orang-orang baru, menghadapi masalah yang berbeda, dan belajar mengambil keputusan. Dalam proses itu, saya semakin menyadari bahwa perjalanan saya sampai di titik ini tidak hanya dibentuk oleh diri saya sendiri.

Ada seorang perempuan yang selama bertahun-tahun berada di belakang saya. Perempuan yang cara mendidiknya terkadang terasa keras. Perempuan yang terbiasa mengurus banyak hal sendiri. Perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja, belajar, mengabdi sebagai pendidik, dan membantu orang-orang disekitarnya.

Perempuan itu adalah tante saya, Dorothea Rangkoli

Bagi orang lain, ia mungkin hanya seorang guru ASN yang tertinggal dan bekerja di Merauke. Bagi keluarga besar, ia mungkin adalah seseorang yang mandiri dan selalu dapat diandalkan. Namun, bagi saya, ia lebih dari itu.

Ia adalah sosok yang menemani saya tumbuh sejak kecil. Ia adalah guru pertama yang mengajarkan saya tentang kehidupan di luar ruang kelas. Ia adalah orang yang mengajarkan saya untuk berdiri dengan kaki sendiri ketika menghadapi dunia.

Dan ketika suatu hari nanti saya mampu menjadi perempuan yang kuat, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab, saya tahu bahwa sebagian dari diri saya akan selalu berasal dari perempuan yang sejak awal mengajarkan saya bagaimana caranya bertahan. Tante bukan hanya bagian dari masa kecil saya.

Ia adalah salah satu alasan mengapa saya mampu menjadi diri saya hari ini.

  • Penulis: Angeliq Fransisca Juanna
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

  • Dorothea Rangkoli

    Luar biasaa, Agie. Good job. Membaca tulisanmu, membuat air mata ini tak terbedung lagi. Hati terharu, penuh bangga padamu, Gadis kecilku sudah semakin dewasa. Teruslah berkarya anakku, jadilah wanita tangguh dan mandiri yang takut akan Tuhan. Hanya doa yang tulus selalu menyertai langkah hidupmu. Gbu.♥️🙏

    Balas24 September 2026 7:34 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 160
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.457
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput photo_camera 3

    Sudut Pandang: Menyulam Kasih di Atas Benang-benang Keriput

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Oleh: Fr Agustinus Naisoko, CMM (Prodi: Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)  Bunyi Kayu Tenun dan Bau Sopi yang Sederhana Di sebuah sudut desa yang tenang. Setiap kali mengingat masa kecil, hal pertama yang terlintas di ingatan saya bukanlah hal-hal yang indah, melainkan aroma tajam air nira dan bunyi kayu tenun Mama. Bapak tiri saya seorang […]

expand_less