Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan
- account_circle Melinda Kristy Setyarini
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Melinda Kristy Setyarini
Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari peternakan bebek menuju hamparan sawah, begitulah pagi bapak hampir selalu dimulai.
Tidak ada meja kantor yang menunggunya. Tidak adaruangan berpendingin udara yang membuat pekerjaan terasa nyaman. Tidak ada pakaian formal atau seragam
yang menjadi tanda bahwa ia sedang bekerja. Yang ada hanyalah tanah, sawah, bebek, panas matahari, dan tubuh yang perlahan dipenuhi keringat.
Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Seorang petani pergi ke sawah, sementara seorang peternak mengurus hewan ternaknya. Namun, bagiku, rutinitas itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Di balik langkah bapak setiap pagi, ada tanggung jawab yang terus ia jalankan sebagai seorang kepala keluarga dan seorang bapak.
Jalan Hidup yang BerubahArah
Bapakku lahir pada 16 Juli 1974. Kini, di usianya yang ke-52 tahun, ia masih menjalani pekerjaan yang banyak mengandalkan tenaga. Pagi dimulai dari peternakan bebek, kemudian dilanjutkan ke sawah. Panas matahari yang semakin tinggi tidak membuat bapak begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Selama masih ada yang harus diselesaikan, ia akan tetap mengerjakannya.
Namun, menjadi petani dan peternak bukanlah awal dari perjalanan hidupnya.
Sebelum tangannya terbiasa dengan tanah dan tubuhnya akrab dengan panas matahari, bapak pernah menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi seorang sarjana. Gelar tersebut mungkin bagi sebagian orang menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih nyaman. Namun, kehidupan tidak selalu membawa seseorang pada jalan yang telah direncanakan.
Jalan bapak kemudian berubah arah.
Ia menjalani kehidupan sebagai petani sekaligus peternak bebek.
Perubahan itu tidak membuatnya malu dengan pekerjaannya. Gelar yang pernah diperolehnya tidak membuat ia merasa lebih tinggi dari pekerjaan yang sekarang dijalani. Ia tidak membutuhkan
jabatan untuk membuktikan bahwa dirinya berharga. Baginya, pekerjaan tetaplah pekerjaan yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Dari bapak, aku belajar bahwa seseorang tidak menjadi lebih rendah hanya karena pekerjaannya berbeda dari yang pernah dibayangkan. Bapak adalah seorang sarjana, tetapi ia juga seorang petani. Ia adalah seorang peternak, tetapi juga seorang kepala keluarga. Semua peran itu hidup dalam satu sosok yang sama.
Di Balik Keringat, Ada Tanggung Jawab
Menjadi petani dan peternak membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Di sawah, bapak berhadapan dengan panas yang semakin meninggi. Di peternakan, ada pekerjaan yang harus dilakukan sejak pagi. Tubuhnya berkeringat, tenaganya terkuras, dan rasa lelah tentu menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, aku jarang mendengar bapak mengeluhkan pekerjaannya.
Aku tahu, ada banyak hal yang dipikirkannya. Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab bapak tidak berhenti ketika pekerjaan di sawah selesai. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada masa depan anak-anak yang harus dipikirkan.Ada pendidikan yang harus diperjuangkan.
Dulu, aku belum cukup dewasa untuk memahami semua itu. Namun, semakin bertambah usia, cara pandangku perlahan berubah.Aku mulai menyadari bahwa rutinitas yang dahulu terlihat biasa ternyata menyimpan banyak hal. Ada tenaga yang diberikan, waktu yang dikorbankan, dan tanggung jawab yang dipikul tanpa banyak dibicarakan. Bapak mungkin tidak selalu mengatakan bahwaia lelah. Tetapi tubuhnyayang berkeringat di bawah matahari sudahcukup banyak bercerita.
Ketegasan yang Tumbuh dari Kasih Sayang
Bapak bukan sosok yang selalu lembut dalam mendidik anak-anaknya. Ia cukup tegas. Nasihatnya terkadang disampaikan dengan serius dan membuat kami harus berpikir kembali mengenai apa yang telah kami lakukan. Namun, semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa ketegasan itu tidak berarti kurangnya kasih sayang.
Bapak mengajarkan kami untuk tidak mudah menyerah. Ia ingin anak-anaknya berani mencoba hal-hal baru dan tidak takut mengambil kesempatan. Tetapi menurutnya, keberanian juga harus disertai dengan kebijaksanaan. Setiap keputusan perlu dipikirkan karena setiap pilihan akan membawa kami pada langkah berikutnya.
Nasihat-nasihat itu terasa semakin berarti ketika aku mengingat perjalanan hidup bapak sendiri. Ia pernah memiliki jalan hidup sebagai seorang sarjana, tetapi kemudian harus menjalani kehidupan yang berbeda. Dari pengalaman itulah mungkin ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apayang telah direncanakan. Karenaitu, ia ingin anak-anaknyamemilikikeberanian untuk menghadapi perubahan, tetapi juga kemampuan untuk menentukan pilihan dengan bijak.
Perempuan Harus Bisa Berdiri Sendiri
Ada satu kalimat bapak yang sampai sekarang masih kuingat:
“Perempuan itu harus memiliki pendidikan yang tinggi dan dapat bekerja sendiri agar kelak dia bisa berdiri sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bagiku menyimpan harapan yang besar.
Bapak tidak hanya ingin anak perempuannya mendapatkan pendidikan karena sekolah adalah sebuah kewajiban. Ia ingin kami memiliki bekal untuk menentukan kehidupan sendiri. Ia ingin kami mampu bekerja, memiliki pilihan, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Harapan itu bukan hanya disampaikan melalui kata-kata. Bapak juga berusaha mewujudkannya melalui pekerjaannya.
Aku dan saudara kembarku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Di balik kesempatan itu, ada bapak yang setiap pagi pergi ke peternakan, kemudian melanjutkan pekerjaannya di sawah. Ada tanah yang ia garap, ada bebek yang ia rawat, ada panas yang ia hadapi, dan ada keringat yang jatuh selama ia bekerja. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan kami untuk mendapatkan pendidikan. Bapak mungkin tidak pernah menyebutnya sebagai sebuah pengorbanan. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan sebagai seorang bapak.
Sawah yang Menjadi Saksi
Kini, ketika melihat bapak pergi ke sawah, pandanganku tidak lagi sama seperti dahulu.
Aku tidak hanya melihat seorang petani.
Aku melihat seorang manusia yang pernah menjadi sarjana, tetapi tidak pernah malu dengan jalan hidup yang dijalaninya. Aku melihat seorang kepala keluarga yang menjalankan tanggung jawabnya dengan caranya sendiri. Aku juga melihat seorang bapak yang mungkin tidak banyak berbicara tentang mimpi, tetapi setiap hari bekerja untuk membuka jalan bagi anak-anaknya.
Sawah menjadi salah satu tempat perjuangan itu berlangsung. Peternakan bebek menjadi tempat lain di mana harapan itu dipelihara. Dulu, sawah hanya terlihat sebagai tempat bapak bekerja. Sekarang, sawah menjadi tempat yang mengingatkanku pada perjuangan.
Di sana aku belajar bahwa kerja keras tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar. Terkadang, kerja keras hanya berupa seseorang yang bangun pagi, menyelesaikan pekerjaannya, lalu kembali pulang untuk keluarganya.
Bapak mengajarkanku bahwa kehidupan bisa membawa seseorang ke jalan yang berbeda dari rencana awal. Namun, perubahan jalan bukan berarti seseorang harus berhenti berjalan.
Panen yang Tidak Berupa Padi
Aku tidak tahu seperti apa kehidupan yang dahulu dibayangkan bapak ketika ia masih menjadi seorang sarjana. Aku juga tidak tahu mimpi apa yang pernah ia miliki untuk dirinya sendiri. Yang aku tahu, ia tidak membiarkan perubahan jalan hidup membuatnya berhenti berharap.
Justru dari kehidupannya sekarang, bapak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk terus melangkah. Ia bekerja agar kami dapat belajar. Ia memberi nasihat agar kami berani mencoba. Ia mendidik kami agar mampu mengambil keputusan dengan bijak. Dan yang paling penting, ia ingin kami memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.
Suatu hari nanti, ketika aku dan saudara kembarku telah mampu berdiri dengan kaki sendiri, mungkin bapak tidak lagi perlu melihat hasil sawah untuk mengetahui bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Sebab ada hasil lain yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat dipanen dari tanah.
Di bawah terik matahari, ia memang menanam di sawah. Tetapi tanpa banyak yang menyadarinya, ia juga sedang menanam harapan di dalam hidup anak-anaknya.
Dan mungkin, bagi seorang bapak, itulah panen yang paling ia nantikan.
- Penulis: Melinda Kristy Setyarini
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar