Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

  • account_circle Virginia Dedebupu Hanasbey
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah mahasiswa yang belajar tumbuh jauh dari rumah

Malam telah turun ketika sebagian besar rumah mulai mematikan lampunya. Namun, di sebuah kamar kos yang tidak terlalu luas, cahaya lampu masih menyala. Di atas meja terdapat laptop yang terbuka, beberapa buku kuliah, dan catatan tugas yang belum selesai.

Tidak ada suara keluarga yang memanggil untuk makan malam. Tidak ada pula suara orang tua yang mengingatkan untuk segera beristirahat. Yang terdengar hanya suara kendaraan dari kejauhan dan sesekali bunyi notifikasi dari telepon genggam.

Bagi sebagian mahasiswa, tinggal jauh dari rumah mungkin hanya berarti berpindah tempat tinggal. Namun, bagi mereka yang harus meninggalkan keluarga demi pendidikan, perpindahan itu juga berarti belajar menjalani banyak hal seorang diri.

Di kamar kos yang sederhana, mereka tidak hanya belajar tentang mata kuliah. Mereka juga belajar mengatur waktu, mengelola keuangan, menghadapi rasa rindu, menyelesaikan masalah sendiri, dan perlahan memahami arti menjadi dewasa.

Belajar Menjadi Dewasa dari Sebuah Kamar Kecil

Kehidupan mahasiswa di perantauan sering kali terlihat sederhana dari luar. Pergi kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul dengan teman, kemudian kembali ke kos. Rutinitas tersebut terus berulang hampir setiap hari.

Namun, ada cerita yang tidak selalu terlihat di balik rutinitas tersebut. Ketika tinggal jauh dari keluarga, hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa tiba-tiba menjadi tanggung jawab sendiri. Menentukan makanan yang akan dibeli, mengatur uang untuk kebutuhan sehari-hari, mencuci pakaian, menjaga kesehatan, hingga menghadapi masalah tanpa selalu bisa meminta bantuan keluarga. Dari situlah kemandirian perlahan tumbuh. Kamar kos akhirnya bukan sekadar tempat untuk tidur. Ia menjadi ruang untuk belajar, beristirahat, bercerita, sekaligus mengumpulkan kembali semangat setelah menjalani hari yang melelahkan.

Rindu yang Tidak Selalu Diucapkan

Jarak membuat komunikasi dengan keluarga berubah. Percakapan yang dahulu dapat dilakukan secara langsung kini sering kali hanya berlangsung melalui pesan singkat atau panggilan telepon.

Pertanyaan sederhana seperti, “Sudah makan?” atau “Bagaimana kuliahnya?” menjadi sesuatu yang terasa lebih berarti ketika berada jauh dari rumah. Ada kalanya rasa rindu datang tanpa pemberitahuan. Bisa ketika melihat keluarga lain sedang berkumpul, ketika mendengar suara orang tua melalui telepon, atau ketika sedang menghadapi hari yang berat.

Namun, kehidupan harus tetap berjalan. Tugas kuliah tetap harus dikerjakan. Kelas tetap harus dihadiri. Kegiatan bersama teman juga terus berlangsung. Karena itu, banyak mahasiswa perantauan belajar menyimpan rasa rindu tersebut sambil terus melangkah. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena ada sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Antara Tugas, Uang, dan Waktu

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar di dalam ruang kelas. Ada banyak hal yang harus dipikirkan secara bersamaan.

Tugas yang datang silih berganti, jadwal kuliah yang padat, kegiatan organisasi, kebutuhan sehari-hari, hingga pengeluaran yang harus diperhitungkan menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Di perantauan, kemampuan mengatur keuangan menjadi salah satu pelajaran penting. Uang yang dimiliki harus dibagi untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, dan keperluan lainnya.

Tidak jarang seorang mahasiswa harus berpikir berkali-kali sebelum membeli sesuatu. “Ini benar-benar perlu atau hanya ingin?”

Pertanyaan sederhana seperti itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari sana, mahasiswa belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti bebas melakukan apa saja. Menjadi dewasa berarti mulai memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

Teman yang Menjadi Rumah Sementara

Jauh dari keluarga tidak berarti harus menjalani semuanya sendirian. Di lingkungan kampus dan tempat tinggal, teman sering kali menjadi orang yang hadir ketika keluarga berada jauh. Mereka menjadi tempat bertanya ketika tugas tidak dipahami, tempat bercerita ketika hari terasa berat, atau sekadar teman makan ketika rasa kesepian datang. Pertemanan di tanah rantau kemudian memiliki arti yang berbeda.

Mereka mungkin bukan keluarga yang memiliki hubungan darah, tetapi kehadiran mereka dapat membuat tempat yang awalnya terasa asing menjadi lebih familiar.

Sebuah ajakan sederhana untuk makan bersama dapat mengubah malam yang sepi. Sebuah pertanyaan sederhana, “Kamu nggak apa-apa?” dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Pulang yang Selalu Memiliki Arti

Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, kata “pulang” memiliki makna yang lebih dalam. Pulang bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pulang berarti kembali kepada orang-orang yang selama ini menjadi alasan untuk terus berjuang.

Ketika kesempatan untuk pulang datang, perjalanan tersebut terasa berbeda. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Bertemu keluarga, makan bersama, atau sekadar berada di rumah menjadi hal sederhana yang terasa sangat berharga.

Namun, setelah beberapa waktu, mahasiswa akan kembali ke tempat perantauan. Koper kembali ditutup.

Barang-barang kembali dimasukkan. Salam perpisahan kembali diucapkan. Kemudian perjalanan dimulai lagi.

Bukan karena rumah tidak dirindukan, tetapi karena masih ada mimpi yang harus dikejar.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa jauh dari rumah adalah sebuah perjalanan tentang melepaskan sekaligus mempertahankan. melepaskan kebiasaan untuk selalu bergantung pada keluarga, tetapi mempertahankan doa dan harapan yang mereka titipkan.

Kamar kos mungkin hanya memiliki dinding-dinding sederhana. Namun, di dalamnya terdapat banyak cerita: tentang tugas yang dikerjakan hingga larut malam, tentang makanan sederhana yang menjadi teman makan, tentang telepon dari rumah, tentang tawa bersama teman, dan tentang seseorang yang perlahan belajar menjadi dewasa.

Jarak memang membuat rumah terasa jauh. Tetapi, mungkin justru dari jarak itulah seseorang belajar memahami arti rumah. Sebab pada akhirnya, pulang bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang alasan mengapa seseorang terus berjalan.

  • Penulis: Virginia Dedebupu Hanasbey
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 227
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Felisitas Tri Wulandari
    • visibility 140
    • 6Komentar

    Oleh: Felisitas Tri Wulandari (Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma) Pukul enam pagi, ketika sebagian orang di kampung kami belum bangun sepenuhnya dari tidur, seorang lelaki paruh baya sudah memanggul karung jagung menuju tempat penggilingan. Keringat membasahi punggungnya jauh sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia akan terus begitu sampai matahari benar benar tenggelam di ufuk barat, dua […]

expand_less