Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Pada Punggung yang Menyanggah Langit

  • account_circle Maria Melati Kefi
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 60
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maria Melati Kefi

(Pendikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)

 

“Sebelum mengenal dunia, aku lebih dulu mengenal cinta dari seorang lelaki yang kupanggil Bapak.”

Sebuah Kisah dari Sainiup dan Hangatnya Cinta Keluarga

Pagi di desa sainiup, selalu memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Desa kami terletak di kecamatan Biboki Selatan,Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Suasana di desa masih terasa dingin ketika sebagian orang masih terlelap,dari kejauhan terdengar suara burung dan langkah beberapa orang yang mulai meninggalkan rumah untuk menjalani pekerjaan. Di tengah suasana pagi yang masih sunyi itu, ada satu sosok yang sejak kecil kukenal sebagai lelaki yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia adalah Bapak Hendrikus Mataubana, kepala keluarga kami yang di karunia enam bersaudara. Ketika sebagian orang masih menikmati hangatnya tempat tidur, Bapak sudah memikirkan pekerjaan yang harus dilakukan hari itu. Kadang ia harus pergi ke tempat bangunan,kadang ia harus menghadiri urusan sekolah sebagai kepala komite. Di waktu yang lain, ia terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan rohani yang sejak dulu menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Dari Kursi Kepala Desa Kembali ke Kerasnya Semen dan Batu

Melihat Bapak sekarang, mungkin orang tidak akan langsung menyangka bahwa ia pernah menjadi seorang kepala desa di desa sainiup. Namun, begitulah hidup. Ada masa ketika seseorang dipercaya memimpin, ada pula masa ketika seseorang harus kembali menjalani pekerjaan dengan tangannya sendiri. Jabatan dapat berakhir, tetapi pengabdian tidak harus berhenti bersamanya. Setelah masa jabatannya sebagai kepala desa selesai, Bapak kembali menjadi tukang bangunan. Ia kembali akrab dengan semen, pasir, batu, kayu, dan berbagai peralatan bangunan. Tangannya yang dahulu banyak digunakan untuk mengurus berbagai persoalan masyarakat kini kembali bekerja di bawah panas matahari.

Pekerjaan itu tentu tidak mudah. Tubuh harus kuat, tenaga harus disiapkan, dan lelah harus diterima sebagai bagian dari pekerjaan. Namun, Bapak tidak pernah menjadikan perubahan itu sebagai alasan untuk berhenti berjuang.

Sebab, ada keluarga yang menunggunya di rumah. Ada anak-anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan, Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan ada cita-cita yang ingin ia lihat tumbuh melalui anak-anaknya. Bapak tidak banyak berbicara tentang lelahnya. Ia lebih sering menyimpan semuanya sendiri. Ketika ditanya tentang pekerjaannya, jawabannya sering kali sederhana, seolah tidak ada sesuatu yang perlu diceritakan. Padahal, di balik kesederhanaan itu, ada perjuangan yang panjang. Aku baru mulai memahami hal tersebut ketika semakin dewasa. Dulu, sebagai seorang anak, aku hanya tahu bahwa Bapak bekerja. Aku melihatnya pergi dan pulang. Aku melihatnya mencari nafkah untuk keluarga. Namun, aku belum mengerti bahwa setiap keberangkatannya membawa tanggung jawab yang begitu besar. Sekarang, ketika aku sendiri sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, semuanya terasa berbeda. Aku mulai melihat perjuangan itu dari sudut pandang yang lain.

Alunan Doa dalam Sunyi: Jejak Keteguhan Seorang Ibu

Aku mulai mengerti bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak. Menjadi orang tua berarti bersedia mengorbankan banyak hal agar anak-anaknya memiliki kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Dan Bapak melakukan itu setiap hari. Ia tidak berjalan sendirian. Di sampingnya selalu ada Mama, perempuan hebat yang sejak dulu menjadi teman seperjalanan dalam membangun keluarga kami. Mama bukan hanya seorang ibu. Ia adalah seorang pengelola PAUD di desa kami. Seperti Bapak, Mama juga aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan masyarakat dan lingkungan rohani. Keduanya memiliki kesibukan masing-masing, tetapi mereka tetap saling mendukung. Jika Bapak sibuk dengan pekerjaan bangunan dan kegiatan sekolah, Mama tetap menjalankan tanggung jawabnya di PAUD. Jika ada kegiatan masyarakat, mereka berusaha untuk terlibat. Jika ada kegiatan rohani, keduanya pun tidak segan untuk mengambil bagian.

Dari kehidupan mereka, kami sebagai anak-anaknya belajar banyak hal. Kami belajar tentang disiplin bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui contoh. Kami melihat bagaimana Bapak dan Mama selalu berusaha menjalankan tanggung jawab mereka. Kami belajar tentang kepedulian ketika melihat mereka membantu orang lain. Kami belajar bahwa hidup bukan hanya tentang keluarga sendiri, tetapi juga tentang lingkungan tempat kami tinggal. Rumah kami pun tumbuh dalam suasana tersebut. Bukan rumah yang selalu sempurna. Kami tentu pernah berbeda pendapat, pernah mengalami kesalahpahaman, dan pernah merasakan lelah bersama. Namun, semua itu tidak pernah menghilangkan rasa sayang di antara keluarga. Kami tetap menjadi keluarga yang ceria, kompak, dan saling menyayangi. Ada tawa yang terdengar di rumah, ada percakapan sederhana setelah menjalani kesibukan masing-masing dan ada makan bersama serta cerita tentang kegiatan sepanjang hari. Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi kami justru menjadi bagian dari kebahagiaan.

Menyalakan Pelita Harapan bagi Sesama

Bagi saya, rumah bukan hanya sebuah tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat pertama saya belajar tentang kehidupan. Dan Bapak serta Mama adalah guru pertama yang mengajarkan semuanya. Namun, kepedulian Bapak dan Mama ternyata tidak berhenti pada anak-anak mereka saja. Mereka juga memikirkan anak-anak lain di desa. Ada anak-anak yang tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah, ada yang kehilangan semangat untuk belajar, ada pula yang terkendala keadaan ekonomi sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan. Bagi sebagian orang, mungkin keadaan tersebut hanya menjadi cerita yang disayangkan. Namun, bagi Bapak dan Mama, selalu ada pertanyaan lain: apa yang bisa dilakukan? Mereka mencoba mencari jalan juga mencarikan bantuan beasiswa bagi anak-anak yang membutuhkan. Mereka berusaha menghubungkan anak-anak tersebut dengan orang orang atau lembaga yang dapat membantu pendidikan mereka. Untuk anak-anak yang memiliki panggilan hidup tertentu, mereka juga berusaha mencarikan jalan agar dapat melanjutkan kehidupan sebagai biarawan atau biarawati. Bagi bapak mama, yang terpenting adalah anak-anak tersebut memiliki masa depan. Mereka percaya bahwa pendidikan dapat membuka jalan yang lebih luas juga percaya bahwa seorang anak tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena keadaan.

Aku sering berpikir, dari mana datangnya kepedulian sebesar itu? Mungkin karena Bapak dan Mama percaya bahwa masa depan sebuah desa tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang sudah dewasa. Masa depan desa juga berada di tangan anak-anak yang hari ini sedang tumbuh. Membantu seorang anak untuk bersekolah berarti membantu menyalakan harapan. Dan Bapak serta Mama memilih untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menyalakan harapan itu. Di tengah semua kesibukannya, Bapak memiliki sebuah prinsip sederhana yang sampai sekarang masih saya ingat “yang penting anak-anak Bahagia”. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, semakin dewasa semakin kusadari pula bahwa di balik kalimat tersebut terdapat pengorbanan yang tidak sederhana. Ketika kami memiliki keinginan, Bapak selalu berusaha mengupayakan yang terbaik. Ia tidak selalu langsung mengatakan bahwa semuanya bisa terpenuhi. Namun, ia akan berusaha mencari jalan. Bahkan ketika tubuhnya sedang lelah, kebutuhan pendidikan anak-anak tetap menjadi perhatian.

Bapak ingin kami memiliki pendidikan yang baik, mempunyai masa depan dan Ia berharap suatu hari nanti kami mampu berdiri dengan kaki kami sendiri. Karena itu, selama masih mampu, Bapak akan terus berusaha. Mungkin itulah bahasa cinta Bapak. Ia tidak pandai menyampaikan kasih sayang dengan kata-kata Panjang, tidak selalu mengatakan bahwa ia menyayangi kami. Tetapi ia menunjukkannya melalui tindakan pekerjaan,waktu, serta pengorbanan. Dan bapak berharap melalui ini anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebagai anak, terkadang kami hanya melihat hasil dari perjuangan orang tua, uang sekolah dibayar, kebutuhan terpenuhi, buku dan perlengkapan pendidikan tersedia dan Kami melihat makanan tersaji di meja.

Namun, dari mana semuanya berasal. Kami tidak melihat berapa lama Bapak harus bekerja , berapa banyak keringat yang jatuh dan bahkan Kami tidak tahu berapa banyak keinginan yang mungkin ia tahan agar kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi. Kami hanya melihat Bapak sebagai seseorang yang kuat. Padahal, Bapak juga manusia yang bisa lelah, sakit, bisa memiliki masalah bahkan Ia juga bisa membutuhkan tempat untuk bersandar. Hanya saja, selama ini Bapak lebih memilih menjadi tempat kami bersandar. Kadang setelah pulang bekerja, tubuhnya terlihat letih, Langkahnya tidak selalu ringan. Namun, setelah sampai di rumah, ia masih bisa berbicara dengan kami, menanyakan keadaan kami, bahkan bercanda seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin begitulah cara seorang ayah menyembunyikan Lelah dan tidak ingin anak-anaknya ikut memikirkan beban yang sedang dipikulnya.

Senja yang Perlahan Turun: Membaca Garis Lelah di Wajah Ayah

Dan ketika saya mulai dewasa, perlahan-lahan semua itu terlihat. Sekarang saya masih kuliah, mengejar Pendidikan dan Masih memiliki banyak impian yang ingin dicapai. Namun, di saat yang sama, saya mulai memperhatikan perubahan pada diri Bapak. Rambutnya mulai memutih, wajahnya tidak lagi seperti ketika aku masih kecil, tangannya mungkin tidak sekuat dahulu dan bahkan Langkahnya mungkin tidak lagi secepat dulu. Waktu ternyata benar-benar berjalan. Dulu saya berpikir bahwa bapak akan selalu ada dengan kekuatan yang sama, merasa masih memiliki banyak waktu untuk membuatnya bangga, dan ada waktu untuk membalas semua kebaikannya. Tetapi semakin dewasa, saya sadar bahwa waktu tidak pernah memberikan kepastian.

Hari terus berganti, usia bapak terus bertambah. Sementara saya masih berada di bangku kuliah, masih belajar, dan masih berusaha menemukan jalan menuju cita-cita saya. Kadang muncul rasa bersalah dalam diri saya. Bapak semakin tua, sedangkan saya masih banyak bergantung kepadanya. Namun, saya sadar justru pendidikan inilah yang menjadi salah satu alasan bapak terus berjuang. Ia bekerja agar saya bisa belajar. Jadi, tugasku bukan hanya menyelesaikan kuliah, tapi Tugasku adalah menghargai perjuangan itu dengan belajar sungguh-sungguh agar menjadi seseorang yang dapat dibanggakan.

Bapak dan Mama telah membangun sebuah keluarga bukan hanya dengan rumah, tetapi dengan nilai-nilai kehidupan kerja kerasnya, sedangkan mama dengan keteguhan dan kepeduliannya. Mereka mengajarkan bahwa keluarga harus saling mendukung , hidup harus dijalani dengan disiplin dan mereka mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang seberapa besar kita dapat berguna bagi orang lain. Mungkin karena itulah keluarga kami terasa begitu dekat. Kami tidak hanya tinggal di bawah atap yang sama tetapi juga tumbuh dalam nilai dan cinta yang sama.

Dari Bapak, saya belajar bahwa jabatan tidak menentukan nilai seseorang. Ia pernah menjadi kepala desa, tetapi setelah masa jabatannya berakhir, ia tidak malu menjadi tukang bangunan. Dari sana aku belajar bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan jujur adalah pekerjaan yang mulia dan mama, saya belajar tentang ketekunan dan kepedulian. Dari keduanya, saya belajar bahwa kehidupan yang baik bukan hanya tentang memiliki sesuatu, tetapi tentang memberikan sesuatu. Kini, ketika melihat bapak, saya tidak hanya melihat seorang ayah. Namun saya melihat seorang lelaki yang telah melewati begitu banyak perjalanan. Melihat seorang suami yang selalu berjalan bersama mama, dan melihat seorang ayah yang terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapak mungkin tidak pernah meminta penghargaan atas semua itu. Ia hanya menjalani hidup,bangun pagi, bekerja, dan memastikan anak-anaknya tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan mengejar cita-cita. Sederhana, namun berarti.

Punggung Pertama Tempatku Belajar Memandang Langit

Ada banyak punggung yang kuat di dunia ini. Namun, bagi seorang anak Perempuan, punggung ayah adalah salah satu yang paling berarti. Di punggung itulah saya melihat perjuangan. Dan di balik semuanya, saya menemukan cinta. Bapak mungkin tidak benar-benar menyangga langit tetapi bagiku, punggungnya seperti tempat bertumpunya banyak harapan. Saya ingin menjadi seseorang yang tidak hanya berhasil untuk diri sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi orang lain, seperti yang selama ini dicontohkan oleh Bapak dan Mama. Mungkin saya belum mampu membalas semua yang telah diberikan, dan mungkin kata “Terima Kasih” terlalu sederhana untuk menggambarkan seluruh keringat dan pengorbanan Bapak.

Namun, dari hati seorang anak Perempuan, saya ingin mengatakannya. Terima kasih, Bapak.

Terima kasih sudah menjadi punggung keluarga dengan begitu baik. Terima kasih sudah mengajarkanku tentang kerja keras, disiplin, kepedulian, tanggung jawab, dan kasih sayang. Terima kasih karena tidak pernah berhenti mengupayakan yang terbaik untuk anak-anakmu. Terima kasih karena telah berjalan begitu jauh bersama Mama untuk membangun keluarga yang penuh cinta. Dan ketika suatu hari nanti rambut Bapak benar-benar memutih, saya ingin bapak tahu bahwa semua perjuangan itu tidak pernah sia-sia. Karena, di setiap langkah yang sedang kutempuh, ada doa bapak dan mama. Di setiap cita-cita yang sedang kuperjuangkan, ada keringat Bapak. Dan di setiap keberanian yang kumiliki untuk memandang masa depan, ada seorang lelaki yang sejak awal telah mengajariku untuk tidak takut pada kehidupan.

Bapak adalah cinta pertamaku. Sebelum saya mengenal dunia, saya lebih dahulu mengenal seorang lelaki yang hebat bagi keluarganya dan bagi orang lain. Lelaki itu adalah bapak. Dan pada punggungnyalah, untuk pertama kalinya, aku belajar memandang langit.

 

  • Penulis: Maria Melati Kefi
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (6)

  • Holydo

    Karya tulisan yang indah dan penuh makna, Ade Melati. Pesan tentang cinta dan pengorbanan orang tua tersampaikan dengan sangat baik. Sukses terus untuk proses studi dan karya-karya selanjutnya!” Tuhan memberkati

    Balas20 September 2026 11:16 am
  • Holydo

    Karya tulisan yang indah dan penuh makna, Kak Melati. Pesan tentang cinta dan pengorbanan orang tua tersampaikan dengan sangat baik. Sukses terus untuk proses studi dan karya-karya selanjutnya!”

    Balas20 September 2026 11:15 am
  • Dian

    Bagus Mel ceritanya Tante tersentuh dengan cerita Mel, pesen Tante sama Mel, Mel harus selesaikan kuliah dan belajar dengan baik dan benar supaya bisa banggain Bapak dan Mama. Tante akan selalu mendukung Mel, jangan jadi orang yang sombong ya Mel kalau sudah berhasil dan sukses, jadilah pribadi Mel yang apa adanya jangan orang lain. 🥰🥰🙏

    Balas19 September 2026 11:37 am
  • Milka

    Semangat trus bapak

    Balas18 September 2026 11:04 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 350
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 244
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 456
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 255
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 77
    • 8Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

expand_less