Ruang Rasa: Pohon Mangga
- account_circle Fian N
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Saya belum berjalan lagi ke beberapa sawah yang dulu begitu akrab dengan masa kecil saya: Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa.
Entah sudah berapa lama saya tidak menyusuri jalan-jalan kecil itu. Jalan tanah yang dulu saya kenal tanpa perlu berpikir, pematang sawah yang bisa saya lewati dengan langkah-langkah kecil, dan sudut-sudut tempat kami biasa berhenti ketika lelah bermain. Ada begitu banyak hal yang mungkin sudah berubah di sana. Tetapi dalam ingatan saya, sawah-sawah itu masih seperti dahulu.
Hampir di setiap sawah, dulu ada pohon mangga.
Pohon-pohon itu tumbuh seperti bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kami. Ketika musim berbuah tiba, pohon mangga menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu. Buahnya belum tentu benar-benar matang, tetapi bagi anak-anak, menunggu sampai matang adalah perkara yang terlalu lama. Katapel dan sebatang kayu menjadi alat yang cukup untuk membuat beberapa buah jatuh.
Kami memanjat, melempar, berlari, tertawa, lalu pulang dengan tangan yang kadang penuh getah dan mulut yang masih menyisakan rasa asam atau manis mangga muda.
Sesederhana itu masa kecil. Dan mungkin karena kesederhanaannya itulah, sekarang saya merindukannya.
Hari ini, dari sekian banyak sawah yang pernah saya kenal, pohon-pohon mangga itu satu per satu seperti menghilang. Ada yang ditebang, ada yang mati, ada yang mungkin sudah tidak lagi tumbuh karena perubahan cara orang mengolah sawah.
Entahlah. Saya sendiri belum sempat memastikan semuanya. Tetapi di sawah milik Bapak, masih ada satu pohon mangga. Pohon itu sudah ada jauh sebelum saya lahir.
Saya tidak tahu siapa yang menanamnya. Saya tidak tahu persis kapan ia mulai tumbuh. Mungkin ketika Bapak masih muda, mungkin bahkan sebelum saya mengenal dunia. Yang saya tahu, ketika saya hadir ke dunia, pohon itu sudah lebih dahulu ada. Ia sudah berdiri di sana ketika saya masih belum mengerti apa-apa tentang kehidupan.
Dan pagi tadi, ketika saya melihatnya, pohon itu sedang berbunga. Saya tersenyum.
Ada rasa senang yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar karena pohon itu akan berbuah. Tetapi karena setelah sekian lama, ia masih bertahan.
Saya melihat bunga-bunga kecil itu seperti melihat sebuah harapan yang sangat sederhana: semoga ia tetap hidup.
Semoga tidak bernasib sama dengan pohon-pohon mangga yang lain. Semoga ia tidak ikut punah dari ingatan kami. Sebab bagi saya, pohon mangga itu bukan lagi sekadar pohon.
Ia adalah tanda. Ia adalah salah satu bagian kecil dari kehidupan yang pernah saya jalani bersama Bapak.
Dulu, setiap kali pulang dari sawah, Bapak hampir selalu membawa mangga ke rumah. Tidak banyak. Kadang hanya beberapa buah. Tetapi saya baru memahami sekarang bahwa yang dibawa Bapak sebenarnya bukan hanya mangga.
Ada perjalanan pulang di dalamnya. Ada panas matahari yang menempel di tubuhnya. Ada lelah setelah bekerja. Ada tanah sawah yang mungkin masih melekat di kaki.
Ada tangan yang seharian bekerja, lalu dalam perjalanan pulang masih sempat memetik sesuatu untuk dibawa kepada anak-anak di rumah. Dulu saya mungkin hanya melihat buah mangga.
Sekarang, setelah Bapak tidak lagi pulang dari sawah, saya melihatnya dengan cara yang berbeda.
Saya melihat kasih sayang seorang bapak yang dahulu begitu biasa sehingga tidak pernah terpikir untuk saya tanyakan maknanya.
Begitulah banyak hal dalam hidup. Kita sering baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah sesuatu itu tidak lagi bisa kita temui dalam bentuk yang sama.
Dulu, kepulangan Bapak dari sawah adalah sesuatu yang biasa. Sekarang, kepulangan itu hanya tinggal kenangan.
Dulu, suara langkahnya menuju rumah mungkin tidak pernah saya anggap istimewa.
Sekarang, saya tahu bahwa ada suara-suara tertentu yang tidak akan pernah kembali, betapapun kita berharap mendengarnya sekali lagi.
Dan pohon mangga itu menjadi salah satu tempat di mana ingatan tentang Bapak masih terasa hidup. Saya membayangkan Bapak berdiri di bawahnya.
Mungkin memandang buah-buah yang bergelantungan. Mungkin memilih mana yang sudah cukup matang. Mungkin memetiknya satu per satu. Lalu membawanya pulang.
Saya tidak tahu berapa banyak mangga yang pernah Bapak bawa dari sawah. Saya juga tidak pernah menghitungnya.
Tetapi hari ini saya sadar, mungkin ada hal-hal yang memang tidak perlu dihitung ketika masih kita miliki. Kita baru ingin menghitungnya ketika semuanya telah menjadi kenangan.
Pohon itu sekarang menjadi semacam monumen bagi kebersamaan kami. Bukan monumen yang terbuat dari batu. Bukan prasasti dengan nama dan tanggal. Ia adalah monumen yang hidup. Setiap tahun ia berbunga. Setiap tahun ia mencoba berbuah.
Setiap kali daunnya bergerak disentuh angin, seolah-olah ada sesuatu dari masa lalu yang sedang menyapa.
Dan mungkin begitulah cara alam menyimpan kenangan. Ia tidak menyimpannya dalam album foto.
Ia menyimpannya pada tempat-tempat yang pernah kita datangi, pada jalan yang pernah kita lewati, pada sawah tempat orang-orang yang kita cintai pernah bekerja, dan pada pohon yang pernah memberi kita buah.
Karena itu saya ingin suatu hari nanti berjalan lagi ke Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa. Bukan hanya untuk melihat apakah pohon-pohon mangga itu masih ada.
Tetapi untuk mencari bagian-bagian kecil dari diri saya yang mungkin masih tertinggal di sana. Mungkin masa kecil saya masih berlari di pematang sawah. Mungkin suara tawa kami masih tersimpan di antara rerumputan.
Mungkin bayangan Bapak masih berjalan pulang dengan beberapa buah mangga di tangannya.
Dan mungkin saya akan menemukan bahwa yang sebenarnya saya rindukan bukanlah mangga. Saya merindukan masa ketika Bapak masih ada. Saya merindukan masa ketika pulang dari sawah berarti bertemu Bapak.
Saya merindukan masa ketika sebuah mangga yang dibawa pulang bisa menjadi kebahagiaan kecil yang tidak pernah saya pikir akan hilang. Pagi tadi, saya kembali melihat pohon itu berbunga. Saya berdiri cukup lama di hadapannya.
Ada rasa bahagia, tetapi juga cemas. Bahagia karena ia masih hidup. Cemas karena saya tahu, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar abadi.
Pohon bisa tumbang. Sawah bisa berubah. Buah bisa tidak lagi tumbuh. Manusia juga pada akhirnya akan pergi. Tetapi mungkin kehidupan bukan tentang membuat semuanya tetap ada selamanya.
Mungkin kehidupan adalah tentang merawat apa yang masih bisa kita rawat, mengingat apa yang pernah kita miliki, dan tidak membiarkan sesuatu yang berharga hilang begitu saja dari ingatan.
Karena itu, selama pohon mangga itu masih berdiri, saya ingin menganggapnya sebagai titipan kenangan. Biarlah ia tetap tumbuh. Biarlah suatu hari nanti ia kembali penuh buah.
Dan jika kelak ada anak-anak yang memanjatnya, melempar mangga dengan kayu atau katapel, lalu berlari sambil tertawa, saya ingin percaya bahwa sebagian kecil dari masa kecil kami masih diteruskan oleh mereka. Mungkin Bapak tidak lagi berjalan di sawah itu. Tetapi pohon mangga itu masih berdiri.
Dan selama ia masih berdiri, ada sesuatu tentang Bapak yang belum benar-benar pergi. Ada kasih yang masih tumbuh. Ada kenangan yang masih berbuah.
Dan ada sebuah kepulangan yang, meskipun tidak mungkin terjadi lagi dalam kehidupan nyata, masih dapat saya temukan setiap kali saya kembali menatap pohon mangga itu.
Pohon mangga itu tidak hanya mengingatkan saya pada Bapak. Ia mengingatkan saya bahwa pernah ada masa ketika kami berjalan bersama.
Pernah ada sawah yang menjadi rumah bagi banyak cerita. Pernah ada tangan yang membawa pulang mangga.
Dan pernah ada seorang bapak yang, tanpa banyak kata, mengajarkan kepada saya bahwa cinta sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sebuah perjalanan pulang dari sawah, dengan beberapa buah mangga di tangan.
Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi guru di SMPSK Kotagoa Boawae.
Pondok baca Mataleza Olakile, 2026
- Penulis: Fian N
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar