Tragedi Hillsborough dalam Ingatan Seorang Ibu
- account_circle Patricius Aldi Bima Ariawan
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Patricius Aldi Bima Ariawan
Sejarah kelam biasanya tidak berhenti pada hari peristiwa itu terjadi. Ia terus hidup dalam cara masyarakat mengingat, melupakan, dan memperdebatkan maknanya. Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989, yang menewaskan 97 suporter Liverpool, adalah contoh nyata. Selama lebih dari tiga dekade, tragedi ini bukan hanya soal bagaimana orang meninggal di stadion Sheffield, tetapi juga soal siapa yang berhak menceritakan kisahnya, dan apakah kebenaran bisa bertahan ketika negara, polisi, dan media menyampaikan versi berbeda. Ingatan tidak pernah sepenuhnya milik individu, melainkan selalu bergantung pada kerangka sosial seperti keluarga, kota, atau kelompok yang berbagi pengalaman. Dalam kasus Hillsborough, kerangka itu dibangun terutama oleh keluarga korban dan warga Liverpool, dengan sosok seperti Margaret Aspinall, ibu dari James Aspinall yang meninggal di usia 18 tahun menjadi salah satu penjaga ingatan yang paling gigih.
Pada hari itu Liverpool bertemu Nottingham Forest dalam semifinal Piala FA di Stadion Hillsborough. Suporter Liverpool ditempatkan di tribun Leppings Lane yang sempit dengan akses masuk yang tidak memadai. Menjelang pertandingan dimulai, ribuan orang menumpuk di luar pintu masuk. Ketika sebuah gerbang besar dibuka, arus manusia mengalir deras ke kandang berpagar di belakang gawang yang sebenarnya sudah penuh. Dalam hitungan menit, banyak orang terhimpit di balik pagar besi, dan sebagian besar korban adalah anak muda. Tragedi ini menewaskan 96 orang pada hari itu, dan kemudian pada Juli 2021 jumlah korban resmi bertambah menjadi 97 setelah Andrew Devine, yang mengalami cedera parah sejak hari kejadian, meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Inggris, bukan hanya karena banyaknya korban, tetapi juga karena menunjukkan betapa buruknya pengelolaan keamanan stadion saat itu.
Bagi Margaret Aspinall, kehilangan putranya James tidak berhenti pada saat kematian. Seperti banyak keluarga korban lainnya, ia harus menghadapi luka kedua: tuduhan bahwa suporter Liverpool yang mabuk dan tidak tertib adalah penyebab tragedi. Sistem yang ada pun terlihat lebih sibuk melindungi diri daripada mencari kebenaran. Beberapa hari setelah bencana, harian The Sun memuat berita utama berjudul The Truth yang menuduh suporter Liverpool berbuat keji, berdasarkan keterangan polisi dan sejumlah sumber lain, yang kemudian terbukti salah. Dampaknya sangat besar, karena di Merseyside muncul boikot terhadap surat kabar itu yang bertahan hingga puluhan tahun, menjadi bentuk ingatan yang hidup dalam keseharian.
Dalam situasi itulah Margaret Aspinall bergabung dengan Hillsborough Family Support Group dan kemudian menjadi ketuanya. Kelompok ini berfungsi sebagai komunitas ingatan, yaitu orang-orang yang tidak hanya berbagi duka, tetapi juga berbagi tanggung jawab untuk menjaga agar kebenaran peristiwa tidak hilang. Mereka mengumpulkan dokumen, menghadiri sidang demi sidang, menemui politisi, dan menolak berdamai dengan narasi yang mereka tahu salah. Atas pengabdiannya, Aspinall menerima gelar CBE, dan pada Januari 2025 Dewan Knowsley menganugerahinya Freedom of the Borough, penghargaan tertinggi di wilayah tempat ia tinggal. Namun, kekuatan Aspinall sebenarnya tidak datang dari gelar, melainkan dari kesaksiannya sebagai seorang ibu. Suaranya sulit dibantah karena ia berbicara dari pengalaman pribadi yang nyata. Dalam teori memori kolektif, kesaksian semacam ini berfungsi sebagai jangkar moral yang mengingatkan publik bahwa di balik angka 97 ada manusia, dan di balik pernyataan resmi ada keluarga yang menanggung akibatnya.
Titik balik perjuangan keluarga korban Hillsborough sering dikaitkan dengan upacara peringatan di Anfield pada April 2009, ketika Andy Burnham, Menteri Kebudayaan saat itu, disambut dengan teriakan “Justice for the 96” dari ribuan hadirin. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kemarahan dan tuntutan keadilan tetap hidup meski sudah dua puluh tahun berlalu, dan bahwa ingatan komunitas tidak mudah pudar. Tekanan dari keluarga korban, termasuk lewat kelompok yang dipimpin Margaret Aspinall, akhirnya mendorong pemerintah membentuk panel independen untuk membuka dokumen yang selama ini disembunyikan. Hasilnya, Hillsborough Independent Panel pada 2012 menemukan bahwa banyak keterangan polisi telah diubah untuk menghapus kritik, tidak ada bukti yang mendukung tuduhan terhadap suporter, dan sebagian korban mungkin bisa diselamatkan jika pertolongan datang lebih cepat. Perdana Menteri David Cameron kemudian meminta maaf di parlemen, dan Pengadilan Tinggi membatalkan putusan inkuest 1991. Pada 2016, inkuest baru memutuskan bahwa 96 korban tewas secara melawan hukum dan suporter sama sekali tidak bersalah, sebuah putusan penting yang mengakhiri versi resmi yang menyalahkan korban. Meski begitu, pertanggungjawaban pidana tetap sulit dicapai: pada 2019, David Duckenfield, komandan polisi saat kejadian, dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan karena kelalaian berat, sementara sekretaris klub Sheffield Wednesday hanya dijatuhi denda atas pelanggaran keselamatan. Bagi banyak keluarga, kebenaran akhirnya diakui, tetapi rasa keadilan belum sepenuhnya ditegakkan.
Sepanjang perjalanan panjang mencari keadilan, ingatan tentang Hillsborough dirawat lewat ruang dan bahasa. Bagi Liverpool, Anfield menjadi tempat utama itu, dengan monumen api abadi, nama-nama korban, dan upacara tahunan setiap 15 April ketika kota berhenti sejenak untuk mengenang mereka. Slogan “Justice for the 96”, yang kemudian berubah menjadi “Justice for the 97”, bukan hanya seruan politik, tetapi juga cara menyatakan bahwa tragedi ini belum selesai secara moral. Anak-anak yang lahir jauh setelah 1989 pun tumbuh dengan mengetahui apa yang terjadi di Sheffield, bukan lewat buku pelajaran, melainkan lewat kebiasaan sehari-hari komunitasnya. Di sinilah memori kolektif bekerja paling kuat, karena ia diwariskan bukan lewat arsip resmi, melainkan lewat praktik hidup yang terus dijaga bersama.
Puncak dari kerja ingatan komunitas Hillsborough terjadi ketika ia berubah menjadi aturan hukum. Pada 2017, Andy Burnham dan Steve Rotheram mengusulkan rancangan awal Hillsborough Law yang mewajibkan pejabat publik bersikap jujur dan terbuka dalam penyelidikan. Kampanye ini dihidupkan kembali pada 2021 dengan Margaret Aspinall sebagai salah satu tokoh utamanya. Rancangan tersebut kemudian berkembang menjadi Public Office (Accountability) Bill, yang berisi kewajiban kejujuran dan bantuan bagi pejabat publik, aturan pidana baru, serta kesetaraan perwakilan hukum bagi keluarga korban dalam inkuest yang melibatkan otoritas publik. Pada Juli 2026, RUU ini lolos di House of Commons dengan dukungan bulat dan dikirim ke House of Lords, sebuah momen yang disambut gembira oleh Aspinall. Namun ia tetap kritis: pada Agustus 2026 ia menulis bahwa RUU itu belum sepenuhnya sesuai janji karena dinas intelijen dikecualikan dari kewajiban kejujuran penuh. Sikap ini menunjukkan bahwa memori kolektif bukanlah sekadar nostalgia, melainkan komitmen aktif untuk terus mengawasi agar kebenaran benar-benar dijaga.
Tragedi Hillsborough mengingatkan kita bahwa sejarah kelam tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dijaga dari penyangkalan. Penderitaan para korban semakin berat karena adanya upaya menyalahkan mereka, dan pemulihan baru mungkin terjadi ketika sebuah komunitas menolak membiarkan kebohongan menjadi versi resmi. Margaret Aspinall bersama keluarga-keluarga lain menunjukkan bahwa ingatan bisa menjadi bentuk perlawanan yang sabar: dimulai dari kesaksian pribadi, dirawat melalui ritual peringatan, lalu diperjuangkan hingga menjadi aturan hukum.
Kisah ini menimbulkan pertanyaan yang melampaui sepak bola dan Inggris, siapa yang berhak menentukan versi sebuah peristiwa, dan apa yang harus dilakukan ketika kebenaran dikalahkan oleh kekuasaan? Hillsborough memberi jawaban bahwa selama masih ada orang yang bersedia mengingat dengan setia, kebenaran selalu punya peluang untuk kembali.
- Penulis: Patricius Aldi Bima Ariawan
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar