Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika yang Dibunuh Menunggu di Depan Pintu: Membaca “Membunuh Mini” bersama Derrida

  • account_circle Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu. Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma

Ada cerpen yang selesai ketika pembunuhnya merasa aman. “Membunuh Mini” karya M. Aan Mansyur (2012) justru dimulai dari rasa aman yang dirancang dan berakhir ketika rasa aman itu runtuh. Erwin, seorang direktur, menghamili Mini, pembantunya. Ia tidak mau menikahinya, dan karena itu memutuskan bahwa Mini harus mati. “Kematian tempat bersembunyi paling aman,” pikirnya (hlm. 109). Sopir pribadinya, Sikki, diperintahkan membuang tubuh Mini dengan satu pesan: “Jangan tinggalkan jejak!” (hlm. 111). Rencana berjalan rapi. Namun di ujung cerita, Mini duduk menunggu di depan pintu kantor Erwin.

Kalau dibaca sebagai kisah kejahatan, cerita ini sederhana: orang berkuasa menyingkirkan orang yang lemah. Tetapi pemikiran Jacques Derrida mengajak kita bertanya hal lain, yaitu bagaimana teks ini sendiri membongkar hierarki yang dipakainya. Bagi Derrida (1976), pemikiran sering bekerja dengan pasangan yang tidak setara, seperti hadir dan absen, hidup dan mati, tuan dan hamba. Satu sisi dianggap utama dan sisi lain dianggap tambahan. Dekonstruksi memperlihatkan bahwa yang utama ternyata bergantung pada yang dianggap tambahan itu (Culler, 1982).

Lihatlah Erwin. Cerita menyatakan hierarkinya dengan dingin: “Mini seorang pembantu. Erwin seorang direktur” (hlm. 109). Seolah-olah itu kodrat, bukan posisi. Tetapi setelah Mini disingkirkan, Erwin harus mengantar Sikki ke pintu dan menghentikan taksi untuknya, hal yang tak pernah ia lakukan. Narator mencatat bahwa ia “tiba-tiba merasa menjadi pembantu” (hlm. 113). Sang direktur butuh Mini untuk tubuhnya dan butuh Sikki untuk tangannya. Tanpa orang-orang yang ia rendahkan, ia tak mampu menjalankan rencananya sendiri.

Perintah “jangan tinggalkan jejak” adalah pusat ironi cerita ini. Erwin mengira jejak adalah benda yang bisa dibersihkan. Padahal, kata Derrida (1976, 1982), jejak adalah syarat dari makna dan kehadiran itu sendiri. Segala sesuatu hanya dapat dikenali lewat hubungannya dengan yang bukan dirinya. Kehormatan Erwin hanya bermakna selama berbeda dari aib, sehingga aib selalu ikut tinggal di dalamnya. Maka membunuh Mini tidak menghapus jejak, melainkan melipatgandakannya. Muncul Sikki sebagai saksi, uang lima juta yang membengkak menjadi dua puluh juta, dan kecemasan yang tak kunjung selesai. “Membunuh Mini belum menghabiskan cemasnya,” tulis narator (hlm. 111). Ketika Erwin berkata, “Bilang kalau tidak cukup. Aku tambah” (hlm. 112), kita sadar bahwa harga sebuah diam tidak punya angka akhir.

Ada pula detail kecil yang tajam: obat. Erwin memasukkan “serbuk obat” ke dalam air putih Mini (hlm. 109–110). Dalam bacaan Derrida (1981), kata Yunani pharmakon berarti obat sekaligus racun, dan keduanya tidak bisa dipisahkan. Bagi Erwin, serbuk itu adalah obat bagi masalah yang bernama aib. Padahal ia menumbuhkan penyakit baru, yakni cemas yang tidak tuntas. Pijatan Mini pun bekerja dua kali: tubuh Erwin rileks oleh sentuhan itu, sementara kepalanya merancang kematian si pemijat (hlm. 110). Perawatan dan kekerasan memakai gestur yang sama.

Lalu ada Mini, yang seharusnya sudah tidak ada. Sikki mengetuk kamar hotel yang kosong dan bertanya, “Bukankah Mini telah sepakat untuk menikah denganku?” (hlm. 114). Kita tidak pernah tahu kapan kesepakatan itu terjadi. Janji “Kita akan menikah, Mini” sebelumnya adalah dusta Erwin (hlm. 110), dan kini kalimat yang sama bergema dari mulut Sikki sebagai hasrat. Kata-kata berpindah tangan dan berubah isi. Itulah sebabnya Derrida (1988) curiga pada gagasan bahwa ucapan menjamin kehadiran niat yang tulus.

Apakah Mini selamat, hanya bayangan rasa bersalah, atau hantu? Cerita menolak memilih. Dalam Specters of Marx, Derrida (1994) menyebut hantu sebagai yang kembali sekaligus yang akan datang, tidak sepenuhnya hadir dan tidak sepenuhnya absen. Ia menuntut tanggung jawab dan keadilan yang tidak dapat dihitung atau dilunasi (Derrida, 1992). Itulah Mini di ujung cerita. Ia tidak menyerang dan tidak membalas, hanya menunggu. Erwin mengira “mandi bisa mengusir Mini dan Sikki dari kepala” (hlm. 114), tetapi Mini menunggu di depan pintu kantor, tempat identitas “direktur” itu dibangun, di luar kepala Erwin.

Dekonstruksi sering disalahpahami sebagai relativisme, seolah-olah tidak ada yang benar atau salah. Cerpen ini membuktikan sebaliknya. Ketidakpastian akhirnya membuat tuntutan moral makin tajam, sebab pembaca tidak diberi penyelesaian yang menenangkan. Pembunuhan itu tidak dibenarkan oleh teks, dan tidak pula dihapus oleh ketiadaan jasad. Yang kecil, sebagaimana arti nama Mini, ternyata tidak dapat dihapus oleh seluruh kekuasaan sang direktur. Maka pertanyaan terakhir cerita ini jatuh kepada kita: apa yang akan kita lakukan terhadap orang yang menunggu di depan pintu?

 

  • Penulis: Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dekonstruksi Makna Cinta dalam Puisi “Kepada Cinta” Karya Teguh Esha

    Dekonstruksi Makna Cinta dalam Puisi “Kepada Cinta” Karya Teguh Esha

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Chrisna Ditya Danuarta 
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Oleh: Chrisna Ditya Danuarta  Cinta merupakan salah satu pengalaman manusia yang memiliki makna luas dan sering kali sulit dijelaskan secara pasti. Cinta dapat dipahami sebagai perasaan kasih sayang, kebahagiaan, pengorbanan, dan harapan. Namun, cinta juga dapat menghadirkan kekecewaan, kebingungan, bahkan penderitaan. Perbedaan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu memiliki satu makna yang tetap. Pemaknaan […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Pelan-pelan beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa ternyata hari ini bukanlah kemarin. Setiap yang sudah pernah terjadi hanyalah pengalaman, yang tak akan pernah terulang lagi. Pelan-pelan saya belajar beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa hari ini sungguh bukanlah kemarin. Waktu bergerak tanpa pernah menoleh ke belakang, dan hidup pun menuntut saya untuk ikut melangkah, meski kadang hati […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 136
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

expand_less