Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Pistol Menjadi Properti: Simulakra dan Hiperrealitas dalam Cerpen “Aktor”

  • account_circle Bertoldus Karinus Nurak
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Bertoldus Karinus Nurak. Mahasiswa Sastra Indonesia, Sanata Dharma, Yogyakarta

Pistol itu mungkin tidak pernah berisi peluru. Meski begitu, Pak Anton menggigil, Yusi menjatuhkan berkas-berkasnya, dan Aivi gemetar meraih telepon. Rasa takut mereka tidak menunggu kepastian apakah senjata itu asli. Di titik inilah cerpen “Aktor (‘Surprise’ Tengah Hari)” karya Endang Susanti Rustamaji menjadi lebih dari sekadar kisah kantor dengan akhir yang mengejutkan.

Cerita ini berporos pada seorang pengusaha yang yakin anaknya akan menjadi pembunuh. Keyakinan itu tidak lahir dari perbuatan si anak, melainkan dari selembar koran. Ketika Adam akhirnya muncul dengan pistol, tali rafia, dan tuntutan uang dua miliar, ramalan itu seakan terbukti. Lalu seorang sutradara masuk, memuji wajah Adam, dan mengajaknya syuting sinetron laga. Kekerasan tadi ternyata adegan, atau setidaknya dibaca begitu.

Bagi Jean Baudrillard, inilah ciri hiperrealitas: tanda dan citra tidak lagi menirukan kenyataan, melainkan mendahuluinya. Peta lebih dulu ada, lalu wilayah menyesuaikan diri. Dalam dunia seperti itu, pertanyaan tentang mana yang asli perlahan kehilangan gunanya.

Ketakutan yang Dirakit dari Koran

Pak Anton memanggil Aivi, menyodorkan berita pembunuhan, lalu membacakan analisis “pakar psikologi Amerika”: orang yang lewat dari dua puluh lima tahun tanpa pekerjaan cenderung subversif. Ia merangkainya dengan nama-nama legenda kriminal, yaitu Oswald, Chapman, dan Cunanan. Tak satu pun menyangkut Adam. Namun ketika matanya jatuh pada foto Andy de Silva di koran, ia menemukan alis, bibir, bahkan baju kotak-kotak yang “persis” milik anaknya.

Aivi mengingatkan bahwa Miami jauh sekali dari Indonesia. Kemiripan visual tetap menang atas jarak. Adam yang sungguh-sungguh, yang tempat kosnya pun tak diketahui ayahnya, digantikan oleh Adam versi koran. Mimpi buruk Pak Anton, tempat anaknya menodongkan pistol, terasa seperti cuplikan film, dan karena itu terasa lebih nyata daripada percakapan yang tak pernah terjadi di antara mereka.

Kantor sebagai Panggung

Jika koran memproduksi ketakutan, kantor memproduksi citra. Aivi direkrut lewat iklan di internet dan lima stasiun televisi, lalu dalam setengah tahun berganti posisi tiga kali. Pekerjaannya sebenarnya satu: menemani Pak Anton di seminar, golf, fashion show, bahkan kuis televisi yang tak ada kaitannya dengan perusahaan. Yang dijual adalah kehadirannya, bukan keahliannya.

Benda-benda pun bekerja sebagai tanda. Sepatu stiletto bermerek yang disebut “cendera mata” lebih mirip stempel kepemilikan. Press-release yang ditulis Aivi untuk menepis gosip tidak bertugas menjelaskan apa yang terjadi, melainkan menentukan apa yang boleh dipercaya. Baudrillard menyebut ini citra yang menutupi ketiadaan realitas: kita tak pernah tahu apakah ada yang sungguh perlu ditutupi.

Adam dan Naskah yang Sudah Ada

Adam tampak seperti satu-satunya orang yang menolak permainan itu. Ia membagikan jas, jam tangan, dan sepatunya kepada pengamen dan pemulung, lalu berjalan memakai sarung kumal. Tetapi penolakan itu tidak membawanya keluar dari sistem. Ia hanya pindah panggung.

Penyanderaan di kantor memakai resep yang dikenal siapa pun yang pernah menonton film aksi: pistol, tali rafia, mulut disumpal kain, tebusan tunai. Sesudahnya ia menaikkan kaki ke meja dan berpindah-pindah saluran televisi. Ia pelaku sekaligus penonton. Adam tentu menyimpan dendam, karena ia menuduh ayahnya membunuh ibunya, dan cerpen ini sengaja tak memberi tahu siapa yang benar. Tetapi luka itu tak punya bahasa lain selain bahasa sinema. Ketika semua pola kekerasan sudah dibakukan oleh tayangan, kemarahan yang tulus pun harus meminjam kostum.

Sutradara di Ambang Pintu

Puncaknya adalah kedatangan sang sutradara. Ia minta maaf karena mengganggu “acara Anda menonton TV”, mencocokkan wajah Adam dengan foto di tangannya, lalu mengaku sudah membaca surat lamarannya. Dua orang terikat di kursi tak membuatnya terkejut, seolah sandera hanyalah bagian lazim dari proses seleksi.

Yang menarik, tak ada yang berubah. Pistol, wajah, dan amarah yang sama, yang semenit sebelumnya dibaca sebagai ancaman, kini dibaca sebagai bakat. Hanya bingkainya yang bergeser. Pak Anton dan Yusi, yang masih terikat tali rafia, pelan-pelan berubah dari korban menjadi figuran dalam film yang tak pernah mereka bintangi.

Tidak Ada Luar

“Aktor” akhirnya menolak memberi pijakan di luar simulasi. Pemberontakan Adam berakhir sebagai kontrak enam puluh episode. Ketakutan Pak Anton, yang lahir dari koran, ditutup oleh seorang sutradara. Dan kita, para pembaca, tak pernah diberi tahu apakah pistol itu asli. Mungkin memang itu pesannya: di dunia yang dibentuk tanda, keaslian tak lagi ditentukan oleh benda, melainkan oleh siapa yang memegang kamera.

 

  • Penulis: Bertoldus Karinus Nurak
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Esai Memori Kolektif Tragedi Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, 28 September 2018 Oleh: Agustinus Naisoko, Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Senja di Teluk Sore itu, 28 September 2018, Palu tampak seperti sore-sore lain yang biasa dilewati orang Palu. Matahari condong ke barat, cahayanya jatuh keemasan di permukaan Teluk, dan angin laut membawa bau asin yang […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Benyamin Chintyano Meo
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 267
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Pelan-pelan beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa ternyata hari ini bukanlah kemarin. Setiap yang sudah pernah terjadi hanyalah pengalaman, yang tak akan pernah terulang lagi. Pelan-pelan saya belajar beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa hari ini sungguh bukanlah kemarin. Waktu bergerak tanpa pernah menoleh ke belakang, dan hidup pun menuntut saya untuk ikut melangkah, meski kadang hati […]

expand_less