Wajah yang Hilang: Alienasi Marx dalam “Clara Atawa Wanita yang Diperkosa”
- account_circle Devi Nur Rahma Wati
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Devi Nur Rahma Wati
Sastra Indonesia kontemporer kerap kali lahir sebagai bentuk intervensi paling jujur terhadap luka-luka sejarah yang coba disembunyikan oleh kekuasaan. Salah satu karya paling tajam yang merekam ketakutan kolektif dan kekerasan struktural di penghujung Orde Baru adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Cerpen ini tidak sekadar bertutur tentang tragedi kekerasan seksual yang menimpa etnis tertentu dalam kerusuhan rasial Mei 1998, melainkan sebuah potret muram tentang bagaimana sistem sosial-politik yang lalim mampu mendehumanisasi manusia hingga terasing dari diri dan realitasnya sendiri.
Jika ditarik ke dalam kerangka sosiologi sastra, khususnya teori Marxisme periode muda Karl Marx, kisah Clara dapat dibaca secara mendalam melalui lensa alienasi (alienation atau keterasingan). Dalam manuskrip filosofisnya, Marx menekankan bahwa kapitalisme dan sistem kekuasaan yang opresif tidak hanya mengeksploitasi kerja material manusia, tetapi juga mencabut hakikat kemanusiaannya, membuat mereka asing terhadap produk kerjanya, sesama manusia, dan yang paling fundamental: diri mereka sendiri (species-being). Dalam cerpen Seno, alienasi ini mewujud secara tragis dalam diri Clara, seorang perempuan urban modern yang tiba-tiba direduksi martabat dan kemanusiaannya oleh struktur kekerasan negara dan masyarakat.
Hilangnya Wajah dan Alienasi dari Diri Sendiri
Bentuk alienasi paling mencolok dalam cerpen ini langsung diletakkan pada tataran identitas: Clara tidak memiliki wajah. Ketika ia tampil di televisi atau dibicarakan oleh publik, wajahnya disensor atau digantikan oleh bayangan abstrak. Dalam perspektif Marxis, wajah dan tubuh adalah ekspresi konkret dari subjektivitas manusia yang merdeka. Namun, dalam cengkeraman kekerasan rasial dan birokrasi informasi yang dikendalikan penguasa, Clara kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
Ia tidak lagi dikenali sebagai subjek yang berpikir, merana, dan memiliki riwayat hidup, melainkan diubah menjadi sekadar “objek berita”, “statistik korban”, atau “simbol penderitaan kolektif”. Clara mengalami keterasingan diri (self-alienation) yang akut. Ia terasing dari pengalaman traumatiknya sendiri karena masyarakat, media, dan negara memperlakukan tubuh serta tragedinya sebagai tontonan publik yang asing dari empati kemanusiaan yang utuh.
Keterasingan Sosial: Ketika Sesama Menjadi Ancaman
Alienasi kedua yang dialami Clara adalah keterasingan sosial (social alienation). Dalam masyarakat yang sehat, relasi antarmanusia didasari oleh solidaritas dan pengakuan timbal balik. Namun, kerusuhan rasial dan atmosfer ketakutan yang diciptakan oleh sistem politik opresif mengubah sesama warga negara menjadi ancaman laten.
Ketika Clara mengalami pemerkosaan massal, para pelaku tidak melihatnya sebagai sesama manusia, melainkan sebagai komoditas sasaran pelampiasan kebencian struktural. Lebih jauh lagi, setelah tragedi tersebut, reaksi sosial di sekitarnya yang penuh stigma, bisik-bisik, dan ketakutan politis membuat Clara semakin terisolasi. Lingkungan sosial yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru menjelma menjadi ruang asing yang menghakiminya. Clara terasing dari komunitasnya, terlempar ke dalam kesendirian yang pekat akibat runtuhnya ikatan kemanusiaan yang solidaristik.
Negara, Ideologi, dan Ketiadaan Keadilan
Mengapa alienasi dan kekerasan tersebut bisa terjadi tanpa pertanggungjawaban yang jelas? Di sinilah bekerjanya struktur suprastruktur sosial dalam pandangan Marx tampak nyata. Negara dan aparat penegak hukum pada masa itu gagal menjalankan fungsinya melindungi warga, karena institusi tersebut bekerja di bawah ideologi kekuasaan yang menutupi kebenaran demi stabilitas semu rezim.
Clara adalah korban dari sistem yang menempatkan manusia-manusia kecil sebagai tumbal dari pergulatan politik elite. Ketika Clara mendatangi kantor polisi atau mencoba mencari keadilan, birokrasi yang dingin dan penuh kecurigaan memperlakukan kasusnya bukan sebagai tragedi kemanusiaan, melainkan sebagai “gangguan ketertiban” yang harus diredam. Manusia kembali mengalami reifikasi (kebendaan) di mana penderitaan seorang perempuan diabaikan karena tidak menguntungkan kepentingan struktural yang lebih besar.
Kesimpulan
Melalui cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”, Seno Gumira Ajidarma berhasil menggunakan sastra sebagai instrumen kesadaran kritis untuk membongkar luka sejarah. Membaca cerpen ini melalui konsep alienasi Marx mengingatkan kita bahwa penindasan tidak hanya merusak fisik, tetapi juga mencerabut hakikat eksistensi manusia dari kebebasan, identitas, dan rasa memiliki atas dunianya sendiri. Clara adalah simbol abadi dari korban alienasi struktural seorang manusia yang dipaksa kehilangan wajahnya, namun melalui teks sastra, jeritan kemanusiaannya justru menuntut kita untuk terus melawan lupa dan memperjuangkan keadilan yang sejati.
- Penulis: Devi Nur Rahma Wati
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar