Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan
- account_circle Paulina Bening Puspa Arum
- calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Paulina Bening Puspa Arum
Ada orang-orang yang pergi, lalu perlahan dilupakan. Nama mereka pernah disebut, wajah mereka pernah dikenal, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus jejak. Ketika semakin sedikit orang yang mengingat kenangan pun perlahan menjadi samar.
Bagi Pramoedya Ananta Toer, melupakan bukan perkara sederhana.
Di Pulau Buru, tempat ia menjalani penahanan politik selama bertahun-tahun, Pramoedya tidak hanya berhadapan dengan keterasingan dan hilangnya kebebasan. Ia juga hidup bersama ingatan tentang orang-orang yang pernah berjalan, berbicara, dan berbagi hari dengannya, senelum akhirnya pergi untuk selamanya. Nama-nama mereka kemudian muncul dalam catatan Pramoedya, seolah ia ingin memastikan bahwa mereka tidak hilang untuk kedua kalinya: pertama dari kehidupan, kemudian dari ingatan.
Dari sanalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu menjadi lebih dari sekadar catatan seorang tahanan. Buku itu menjadi ruang bagi suara-suara yang nyaris tenggelam dalam kesunyian.
Menulis dari Tanah Pengasingan
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai salah satu sastrawan penting Indonesia yang banyak menulis tentang manusia, Sejarah, ketidakadilan, dan kehidupan masyarakat. Baginya, menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara untuk memahami kehidupan.
Setelah peristiwa politik 1965, Pramoedya ditahan dan pada 1969 dipindahkan ke Pulau Buru. Ia berada di sana hingga 1979. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan kepenulisannya.
Terbit pada 1995, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Catatan-catatan dari Pulau Buru memuat catatan, surat, kenangan, dan refleksi tentang kehidupan Pramoedya selama berada di sana. Namun, buku ini tidak hanya bercerita tentang dirinya. Di antara halaman-halamannya, hadir pula orang-orang yang mungkin akan hilang dari ingatan jika Pramoedya tidak mencatat mereka.
Dan Mereka Telah Pergi
Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika Pramoedya mencatat orang-orang yang meninggal selama berada di Pulau Buru. Mereka tidak lagi sekadar jumlah dalam sejarah, melainkan manusia yang pernah hidup, memiliki keluarga, berbagi cerita, dan berharap untuk pulang.
Ada sesuatu yang menyedihkan dari sebuah daftar nama orang yang telah meninggal. Nama yang dahulu digunakan untuk memanggil seseorang kemudian berubah menjadi tanda bahwa ia pernah ada.
Pramoedya mencatat mereka.
Tindakan itu tampak sederhana, tetapi di situlah kekuatannya. Menulis nama seseorang berarti mengatakan bahwa ia pernah hidup. Mengingatnya berarti menolak membiarkan kematian menjadi akhir dari seluruh cerita.
Dalam salah satu bagian buku, Pramoedya menulis, ”yang mati bukan berarti bisu”. Kalimat itu menjadi kunci untuk memahami mengapa ia terus menulis. Orang yang telah meninggal memang tidak dapat berbicara lagi, tetapi suara mereka dapat bertahan melalui ingatan orang lain.
Dengan menulis, Pramoedya menjadi salah satu orang yang membawa suara itu.
“Saya Bukan Nelson Mandela”
Pramoedya juga pernah mengatakan, ”Saya bukan Nelson Mandela”, ketika dirinya dibandingkan dengan tokoh Afrika Selatan tersebut. Pernyataan itu menegaskan bahwa pengalaman Indonesia tidak dapat begitu saja disamakan dengan pengalaman Afrika Selatan. Keduanya memiliki konteks sejarah dan politik yang berbeda.
Namun, kelimat tersebut juga memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam” keinginan untuk menceritakan pengalaman melalui suaranya sendiri.
Pramoedya memiliki sejarahnya sendiri. Ia memiliki Pulau Burunya sendiri, orang-orang yang pernah bersamanya, keluarga yang dirindukan, serta pengalaman yang hanya dapat diceritakan dari sudut pandangnya.
Karena itu, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu terasa sebagai ruang bagi Pramoedya untuk berbicara dengan suaranya sendiri. Ia tidak sedang menjadi Mandela. Ia sedang menjadi Pramoedya: seorang penulis, tahanan politik, ayah, teman, sekaligus saksi atas kehidupan orang-orang yang pernah bersamanya.
Surat, Ingatan, dan Rumah
Di balik cerita tentang Pulau Buru dan kematian, terdapat sisi Pramoedya sebagai seorang ayah. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu juga memuat bagian ”Dari dan Kepada Anak”, yang memperlihatkan bagaimana jarak dan penahanan tidak menghapus hubungan dengan keluarga.
Bagi seseorang yang jauh dari rumah, surat bukan sekadar selembar kertas. Ia dapat menjadi jalan pulang ketika tubuh tidak dapat benar-benar pulang. Ketika tidak semua kata mampu sampai kepada penerimanya, tulisan menjadi tempat bagi kata-kata yang tertahan.
Pramoedya menulis tentang mereka yang pergi, anak-anaknya, kehidupannya, serta apa yang ia lihat dan ingat.
Sebab manusia dapat pergi, ketika kata-kata dapat menemukan kehidupan yang kedua.
Sunyi yang Tidak Pernah Benar-Benar Bisu
Mungkin inilah alasan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu tidak cukup jika hanya dibaca sebagai buku tentang masa lalu. Ia berbicara tentang Pulau Buru dan penahanan, tetapi juga tentang sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia: ingatan dan lupa.
Sejarah tidak hanya terdiri dari tanggal, tempat, dan peristiwa besar. Di dalamnya ada manusia yang pernah berharap, kehilangan, menunggu, dan akhirnya pergi. Pramoedya membawa manusia-manusia itu kembali ke dalam cerita.
Ia menulis agar mereka yang telah pergi tidak benar-benar hilang. Ia menulis agar pengalaman tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia menulis agar suatu hari, ketika seseorang membuka kembali catatannya, nama-nama itu masih dapat ditemukan.
Pada akhirnya, kesunyian tidak selalu berhasil membungkam.
Selama masih ada yang mengingat, bercerita, dan menulis, suara itu akan tetap menemukan jalannya.
Sunyi boleh datang. Tetapi kata-kata tidak selalu bersedia diam.
- Penulis: Paulina Bening Puspa Arum
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar