Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kekuasaan dan Pertarungan Legitimasi dalam Cerpen Keroncong Pembunuhan Karya Seno Gumira Ajidarma melalui Perspektif Pierre Bourdieu

  • account_circle Elisabet Laura Kurniasari
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Elisabet Laura Kurniasari

Kekuasaan dalam kehidupan sosial tidak selalu dipertahankan melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui pembentukan cara berpikir, penguasaan informasi, dan penentuan kebenaran yang dianggap sah. Individu sering kali menerima suatu ajaran tanpa mempertanyakan dasar keberadaannya karena telah terbiasa hidup dalam struktur sosial tertentu. Persoalan tersebut tergambar dalam cerpen Keroncong Pembunuhan karya Seno Gumira Ajidarma yang mengisahkan seorang penembak bayaran ketika menjalankan kontrak pembunuhan terhadap seseorang yang disebut sebagai pengkhianat bangsa dan negara. Namun, tugas tersebut menimbulkan konflik ketika penembak mulai mempertanyakan kesalahan sasarannya. Melalui perspektif sosiologi sastra Pierre Bourdieu, konflik tersebut dapat dipahami sebagai hubungan antara habitus, modal, ranah, doxa, ortodoksi, heterodoksi, dan kekerasan simbolik yang membentuk pertarungan legitimasi kekuasaan.

Habitus merupakan sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman sosial dan mempengaruhi cara individu berpikir, menilai, serta bertindak. Dalam cerpen, habitus terlihat melalui pandangan penembak yang menganggap pembunuhan sebagai pekerjaan profesional. Pernyataan β€œAku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku” menunjukkan bahwa penembak telah menginternalisasi pembagian tanggung jawab antara pelaksana dan pemberi perintah. Bahkan, pernyataan β€œAku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk” memperlihatkan usaha memisahkan tindakan teknis dari konsekuensi moralnya. Dengan demikian, kekerasan tidak lagi dipahami sebagai tindakan yang harus dipertanggungjawabkan secara pribadi, melainkan sebagai kewajiban kontraktual yang dianggap wajar.

Habitus tersebut terbentuk dan dijalankan dalam hubungan sosial yang mempertemukan kepentingan politik dengan jaringan operasi pembunuhan. Dalam konsep ranah Bourdieu, setiap pelaku menempati posisi berbeda berdasarkan penguasaan sumber daya dan kewenangannya. Penembak memiliki kemampuan teknis, tetapi tidak berwenang menentukan sasaran maupun waktu pelaksanaan. Sebaliknya, perempuan perantara menguasai informasi dan penyampaian instruksi meskipun tidak memegang senjata. Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan alat kekerasan tidak selalu sejalan dengan kewenangan mengambil keputusan.
Hubungan antarpelaku juga memperlihatkan peranan berbagai bentuk modal. Modal ekonomi diwujudkan melalui kontrak pembayaran yang digunakan untuk memperoleh sekaligus mengendalikan tenaga penembak. Keahlian membidik menjadi modal budaya yang memberikan keuntungan dalam jaringan pembunuhan. Sementara itu, hubungan antara penembak, perempuan perantara, dan pemberi perintah menunjukkan keberadaan jaringan operasional yang memungkinkan pertukaran informasi. Adapun modal simbolik terlihat pada laki-laki berbaju batik merah yang memperoleh penghormatan dari peserta pesta.

Pernyataan β€œOrang-orang mengerumuninya dengan hormat” menunjukkan adanya pengakuan sosial terhadap kedudukannya. Namun, pengakuan tersebut bertentangan dengan tuduhan politik yang dilekatkan kepadanya.

Pertentangan itu memperlihatkan adanya perebutan kewenangan dalam menentukan identitas seseorang. Pemberi tugas menyebut sasaran sebagai β€œpengkhianat bangsa dan negara” tanpa memberikan pembuktian yang memadai. Tuduhan tersebut berfungsi sebagai upaya delegitimasi terhadap individu yang sebelumnya memperoleh penghormatan sosial. Melalui kategori pengkhianat, kepentingan politik tertentu berusaha ditampilkan sebagai kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian, legitimasi kekuasaan dibangun melalui klaim kebenaran yang digunakan untuk membenarkan tindakan pembunuhan.

Dalam perspektif Bourdieu, mekanisme tersebut menunjukkan indikasi kekerasan simbolik, yakni dominasi yang bekerja melalui bahasa dan kategori penilaian sehingga suatu ketimpangan dapat diterima sebagai sesuatu yang sah. Ketika penembak sempat menganggap sasaran pantas memperoleh hukuman karena disebut pengkhianat, terlihat bahwa penilaian politik pemberi tugas mulai mempengaruhi cara berpikirnya. Padahal, penembak belum mengetahui secara langsung kesalahan sasaran. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pelabelan politik dapat menormalisasi kekerasan fisik melalui pembentukan persepsi mengenai siapa yang dianggap bersalah.

Penerimaan awal penembak terhadap pembagian kewenangan juga menunjukkan indikasi doxa, yaitu keyakinan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar tanpa dipertanyakan. Namun, keadaan berubah ketika ia mulai meragukan tuduhan terhadap sasarannya. Pertanyaan β€œPengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” memperlihatkan munculnya heterodoksi, yakni pandangan yang menentang aturan dan kebenaran dominan. Penembak tidak lagi mempersoalkan prosedur kontrak semata, tetapi mulai menggugat legitimasi keputusan pembunuhan.

Sebaliknya, perempuan perantara menunjukkan kecenderungan ortodoksi dengan mempertahankan kewenangan melalui perintah, pembatasan informasi, dan ancaman pembatalan kontrak. Ketika penembak menolak, pertentangan berkembang menjadi perebutan informasi dan perubahan posisi kekuasaan. Penembak menggunakan keterampilan membidiknya untuk mengancam perempuan hingga memperoleh informasi mengenai laki-laki berkacamata sebagai pihak pemberi perintah. Kemampuan yang semula mendukung kepentingan pihak dominan akhirnya digunakan untuk menentang kewenangan tersebut. Meskipun demikian, perubahan ini tidak menunjukkan pembebasan sepenuhnya karena penembak masih menggunakan ancaman kekerasan sebagai sarana menyelesaikan konflik.

Melalui keseluruhan konflik tersebut, Keroncong Pembunuhan memperlihatkan bahwa habitus dapat menormalisasi kepatuhan terhadap kekuasaan, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan munculnya heterodoksi. Keraguan penembak menjadi awal perlawanan terhadap legitimasi politik yang sebelumnya diterima tanpa pembuktian. Sementara itu, pelabelan pengkhianat memperlihatkan bagaimana kekerasan simbolik berpotensi menjadikan kepentingan pihak dominan seolah-olah sebagai kebenaran bersama.

Namun, perlawanan penembak tetap bersifat terbatas karena ia belum meninggalkan habitus kekerasan yang membentuk tindakannya. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan bahwa menggugat legitimasi kekuasaan tidak selalu berarti terbebas dari mekanisme dominasi. Persoalan utamanya bukan hanya siapa yang memiliki kekuasaan untuk memberikan perintah, melainkan juga siapa yang berhak menentukan kebenaran dan menjadikan penilaian tersebut sebagai dasar untuk menguasai kehidupan orang lain.

  • Penulis: Elisabet Laura Kurniasari
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nihil Gol Kontra Persinga dan Alarm Bahaya Laskar Jaramasi Menuju Panggung Semifinal

    Nihil Gol Kontra Persinga dan Alarm Bahaya Laskar Jaramasi Menuju Panggung Semifinal

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Keberhasilan PSN Ngada melangkah ke babak semifinal Liga 4 Piala Presiden 2026 dengan status tak terkalahkan di Babak 8 Besar patut diacungi jempol. Hasil imbang 0-0 melawan Persinga Ngawi di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Minggu (5/7), sudah lebih dari cukup untuk mengunci status mereka sebagai jawara Grup B dengan koleksi 7 poin. Berdasarkan hasil tersebut, […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.553
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Memori Kolektif Perjuangan Jenderal Sudirman melalui Cerita dan Ingatan Masyarakat

    Memori Kolektif Perjuangan Jenderal Sudirman melalui Cerita dan Ingatan Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Ketika Perjuangan Seorang Jenderal Menjadi Ingatan Bersama Nama Jenderal Sudirman merupakan salah satu nama yang lekat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia tidak hanya dikenang sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh yang melambangkan keteguhan dalam menghadapi tekanan dan keterbatasan selama revolusi kemerdekaan. Perjuangannya, […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 912
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 309
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya. Β  Β Oleh: Maria Desan Viktoria Aso Β  Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

expand_less