Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

  • account_circle Patricius Aldi
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

 

“Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.”

Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya.

Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah Minahasa dan ibu berdarah Belanda Prancis. Orang tuanya berharap ia mengikuti jejak sang ayah, tetapi Pierre mempunyai keinginan kuat untuk menjadi tentara. Ia lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat di Bandung, lalu bertugas sebagai perwira Zeni di Medan, Sumatera Utara.

Sebelum menjadi Perwira, pada masa di ATEKAD, Pierre sudah merasakan kerasmya dunia militer. Ia pernah diterjunkan dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera. Di kota itulah, sekitar tahun 1960, ia bertemu Rukmini Chaimin yang merupakan putri muslimin dari seorang pengusaha terpandang di Sumatra Utara. Ternyata asrama tempat Pierre tinggal tak jauh dari kediaman keluarga Rukmini, sehingga ia pun jadi kerap berkunjung.

Kedekatan mereka berubah menjadi cinta, gadis muslimah yang kelak berhasil membuat Pierre berniat pindah keyakinan demi bisa menikahinya, keputusan besar bagi pemuda yang dibesarkan dalam keluarga Kristen yang taat. Bagi banyak pasangan, perbedaan sebesar itu cukup untuk mengakhiri kisah sebelum sempat dimulai. Namun Pierre, yang dikenal tegas begitu sudah menetapkan pilihan, memilih mengikuti jalan itu demi Rukmini.

Karena tuntutan tugas, pada pertengahan tahun 1963, Pierre dipindahkan ke Bogor untuk pendidikan intelijen, bagian dari persiapan Operasi Dwikora, bahkan sempat disusupkan ke wilayah Malaya dalam misi rahasia. Namun jarak itu tidak ikut merenggangkan hubungan mereka. Pierre dan Rukmini melawan rasa rindu dengan saling mengirim pesan lewat surat-surat yang bolak-balik terkirim, kebiasaan yang mereka pertahankan bertahun-tahun, dan setiap kali cuti tiba, ia selalu memilih pulang ke Medan menemui kekasihnya.

Pada April 1965, kariernya melesat, ia naik pangkat menjadi Letnan Satu dan diangkat sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution, Menteri/Panglima Angkatan Darat. Jabatan itu membawanya tinggal di rumah dinas Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, dan menjadikannya begitu dekat dengan keluarga sang jenderal ana-anak Nasution memanggilnya “Om Pierre”.

Tiga bulan kemudian, tugas kenegaraan justru mempertemukannya kembali dengan cintanya. Akhir Juli 1965, ia mendampingi Nasution meninjau Medan, dan di sela tugas resmi itu, pada 31 Juli, ia menyempatkan diri menemui keluarga Rukmini untuk melamar. Lamaran diterima dengan penuh suka cita. Kedua keluarga menetapkan tanggal pernikahan pada 21 November 1965.

Dengan hati yang meluap bahagia, Pierre menyampaikan kabar itu kepada orang tuanya di Jakarta, juga kepada istri sang jenderal yang selama ini memperlakukannya hampir seperti anak sendiri. Bagi perwira muda berusia 26 tahun itu, hidupnya seolah sedang menyusun dirinya sendiri menuju bab paling indah karier yang menanjak, dan sebentar lagi, pernikahan yang telah lama dinanti.

Ada satu momen kecil yang belakangan terasa seperti firasat. Dua hari sebelum malam yang mengubah segalanya, Ibu Nasution berpesan kepada ajudan kesayangan suaminya itu agar tidak menaruh cinta yang berlebihan kepada calon istrinya. Kalimat itu kelak dikenang sebagai salah satu pesan terakhir yang diterima Pierre sebelum ia tiada.

Ia tidak pernah sampai ke tanggal itu

Pada malam 30 September 1965, sekelompok orang yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September menyerbu rumah beberapa jenderal. Salah satunya Rumah Jenderal Nasution, tempat Pierre Tendean sedang bertugas. Nasution berhasil kabur lewat tembok belakang, tapi dalam suasana gelap dan panik, para penculiknya salah mengira Pierre sebagai jenderal yang mencari mereka. Ia pun dibawa bersama enam petugas lain ke Lubang Buaya, dan malam itu juga nyawanya berakhir. Padahal, dua bulan lagi dia sudah menyiapkan rencana pernikahan.

Pierre kemudian diangkat pangkat anumerta menjadi Kapten, dan dikenang sebagai yang paling muda di antara tujuh Pahlawan Revolusi. Namanya bisa ditemukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tempat orang-orang berziarah setiap tahun untuk mengenang peristiwa itu.

Di Medan, kabar duka itu sampai ke Rukmini calon istrinya bukan lewat surat seperti biasanya mereka berkomunikasi, melainkan melalui berita besar yang menggemparkan seluruh negeri. Undangan pernikahan yang sudah disiapkan tak pernah sempat dilewatkan. Butuh waktu lama bagi Rukmini untuk pulih. Ia jarang mau membicarakan kisahnya dengan Pierre. Baru pada tahun 1972, ia menikah lagi dengan seorang pegawai bank, memiliki tiga anak dan lima cucu, dan hidup tenang sampai wafat pada tahun 2019. Namun kenangan tentang Pierre tetap ia bawa sampai akhir hayat.

Kini, lebih dari enam puluh tahun berlalu, Pierre dikenang lewat nama jalan, relief, dan monumen. Tapi di balik semua penghormatan resmi itu, ada sisi yang lebih manusiawi tentang seorang pemuda berusia 26 tahun yang, dua hari sebelum ajalnya, masih sibuk memikirkan calon istri dan undangan pernikahan yang tak pernah sempat dicetak.

 

  • Penulis: Patricius Aldi
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 558
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 329
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    Hanya 19 Persen? Jangan Pernah Meremehkan Tradisi Juara PSN Ngada!

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Rilis persentase peluang juara Liga 4 Piala Presiden 2026 oleh Bola Nusa memantik diskusi menarik di kalangan pencinta sepak bola nasional. Angka-angka yang tersaji bukan sekadar kalkulasi matematis di atas kertas, melainkan cerminan dari peta persaingan yang luar biasa ketat. Namun, di kasta ini, determinasi, mentalitas, dan konsistensi sering kali jauh lebih menentukan ketimbang hitungan […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

expand_less