Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka
- account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- visibility 72
- comment 3 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah.
Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat bahagia. Bapakku adalah anak pertama dari dua bersaudara dan mamaku adalah anak pertama dari lima bersaudara. Mereka memiliki tiga orang putri yang sangat cantik , kehidupan keluarga kecil itu sangat harmonis. Walaupun hanya seorang tukang bangunan dan seorang ibu rumah tangga, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kehidupan kami sangat sederhana, namun cinta mereka kepada kami tidak pernah habis. Demi menghidupkan istri dan anak-anaknya ia rela pergi jauh untuk bekerja ,kadang ia pulang dua kali dalam seminggu, kadang satu kali.
Bapakku berusia 35 tahun, ia sangat muda dan tampan. Bagi orang mungkin bapakku hanya seorang tukang bangunan, tetapi bagi saya dia adalah sosok laki-laki yang hebat yang setiap tetes keringat dan kerja kerasnya memuat cinta serta pengorbanan luar biasa bagi keluarga kecilnya. Dia selalu mengusahakan apa yang kami anak-anaknya mau biarpun itu hanya barang kecil, tetapi itu sangat berarti bagi kami. Dia selalu mengajarkan kami untuk selalu berbuat baik, menyayangi satu sama lain dan selalu memaafkan. Dia tidak pernah membeda-bedakan kami,dia menyayangi semua anak-anaknya dengan cintanya yang ia punya. Ketika bersama dia, hidupku terasa sangat bahagia,sangat berwana dan sangat sukacita, dia selalu menunjukkan senyum manisnya ketika bersama kami.
Suasana di Tahun 2016
Bagi seorang anak,ketika melihat sosok bapak yang selalu ceria, gagah, perkasa, yang selalu menjadi tempat bersandar perlahan melemah adalah ujian terberat. Entah karena penyakit yang menggrogoti tubuhnya atau karena usia yang tak bisa dilawan.
Hari yang paling ditakuti itu tiba. Pada 03,Desember 2016, ia pergi meninggalkan kami. Duniaku terasa hilang, ia meniggalkan kami yang masih membutuhkan perannya.
Tahun-tahun pertama setelah kepergian Bapak adalah masa-masa terberat. Ada kekosongan yang nyata di meja makan. Tidak ada lagi suara khasnya di pagi hari, tidak ada lagi nasihat beralur panjang saat sore hari, dan tidak ada lagi sosok yang bisa dimintai petunjuk saat hidup terasa membingungkan, dan tidak ada lagi tangan yang bisa ku genggam
Mamaku berusia 36 tahun, ia masih sangat muda. Dia adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupku, kelembutannya, hatinya yang selalu mengajarkan kami artinya hidup. Dia adalah wanita yang kuat, yang selalu mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya. Kepergian bapak membuat mama harus banting tulang melanjutkan hidup kami. Walau begitu ia tidak pernah mengeluh dengan takdirnya. Cinta yang dia berikan untuk kami, sayangnya, hidupnya, semua ia berikan pada kami. Kami selalu menghabiskan waktu bersamanya, saat sedang libur sekolah, kami selalu mengikuti dia bekerja. Saya tahu kebersamaan ini tidak bisa terulang lagi. Pada tahun 2019, saya harus melanjutkan hidup saya, walaupun hati ini sangat berat untuk meninggakan-nya, tapi saya yakin suatu saat nanti pasti akan bertemu lagi.
Luka yangĀ Terulang lagi di 2022
Setelah keprgian Bapak, Mama harus melanjutkan hidup kami, menafkahi kami, dan ini terasa sangat berat baginya. Tahun 2022 akan selalu menjadi luka yang paling mendalam, tahun dimana mama jatuh sakit, dia harus melawan penyakit yang telah menggrogoti hidupnya. Saat mendengar kabar ini, ketakutan kembali muncul, tahun dimana doa-doa dipanjatkan dengan sepenuh hati. Namun takdir berkata lain, ketakunan itu kini datang lagi. Pada tanggal 19 Oktober, Mama pergi meninggalkan kami untuk selamanya, rasanya hanya mimpi. Kepergiannya membawah separuh hidupku, separu mimpi-mimpi yang sudah dibangun bersama. Aku selalu bertanya kepada Tuhan, kenapa harus yang mendapat ujian ini, rasanya tidak adil.
Aku selalu berusaha untuk mengikhlaskan kepergian mereka namun hati ini sangat susah untuk melepaskan setiap memori bersama, melepaskan cinta mereka. Namun kepergian mereka ini mengajarkan ku untuk terus melanjutkan hidup.
Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka
Di sela-sela kesibukan, kenangan tentang mereka sering muncul tanpa diminta. Rasa sakit itu muncul lagi ketika melihat kursi roda yang biasa ia duduki, melihat baju yang terlipat rapi di almari dan melihat foto-foto yang tidak bisa diulangi lagi. Tidak ada lagi sapaan sederhana di pagi hari, tidak ada lagi pesan favorit yang selalu bertanya āsudah makan atau belumā ?, āgimana kegiatan hari iniā , dan tidak ada lagi sosok yang biasanya menjadi tempat curhat ternyaman setelah melewati hari-hari yang berat. Setiap langkah yang dijalani hari ini seolah masih berada di bawah bayang-bayang cinta mereka. Bukan bayang-bayang menakutkan , melainkan kenangan yang diam-diam memberi kekuatan
Meski begitu, hidup harus terus berjalan. Hari demi hari tetap harus dijalani. Kuliah, tugas, pertemanan harus tetap berjalan. Aku belajar bahwa kehilangan bukan berarti harus melupakan,justru cinta dari mereka yang telah pergi dapat menjadi alasan kita untuk terus melanjutkan hidup dan terus melangkah. Hidup akan terus berjalan tanpa bertanya kita mampu atau tidak.
Terima kasih telah menjadi bagian paling berharga dalam perjalanan hidup kami. Meski langkah kini terasa berbeda tanpa kehadiran kalian, cinta yang pernah kalian berikan pada kami untuk terus bertahan, berjuang, dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.”
Tidak ada kata yang cukup untuk membalas semua pengorbanan yang telah kalian berikan. Terima kasih telah mengajarkan kami arti cinta yang sejati.āā
Biodata Penulis: Maria Sonia Kari Langobelen. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Dari Lembata Nusa Tenggara Timur.


- Penulis: Maria Sonia Kari Langobelen
- Editor: Redaksi Mataleza

Aaaaaa sedihhh, kuatt kuatt adikkuuuuuuš«
18 September 2026 9:53 amsemangat kaka
18 September 2026 9:46 amWowwww Terharu, semagat Kakaš»
18 September 2026 9:39 am