Breaking News
light_mode
Trending Tags

Hutan Gambut Hangus Terbakar

  • account_circle Maria Nopianti
  • calendar_month 21 jam yang lalu
  • visibility 26
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maria Nopianti

Aroma sangit dan Siklus Rutin Kemarau

Bagi sebagian orang perubahan musim ditandai dengan angin muson timur yang kering, curah hujan yang rendah bahkan tidak ada hujan sama sekali, serta cuaca yang lebih panas. Namun bagi kami masyarakat Kalimantan, kemarau yang panjang menjadi penanda tersendiri yang telah tertanam kuat dalam ingatan kami “aroma sangit kayu yang terbakar dan pekatnya kabut asap”. Kebakaran hutan di kalimantan terjadi tidak hanya sekali dua kali saja, dari saya kecil hingga sekarang kebakaran hutan di kalimantan terjadi hampir setiap tahun. Peristiwa bencana ini secara bertahap membentuk cara pandang kita terhadap lingkungan, menciptakan memori traumatik yang terus berulang setiap kali udara mulai terasa hangat dan berdebu.

Kearifan Adat Dayak dan Rentes yang Dituduh

Kebakaran hutan terjadi disaat musim kemarau, dimana bersamaan dengan masyarakat adat membuka lahan untuk berladang yang dimana mereka melakukan pembakaran lahan secara terkendali menggunakan kearifan lokal seperti membuat sekat bakar atau parit batas api dalam bahasa dayak simpang kualan disebut “rentes” agar api tidak meluas. Tradisi berladang ini sejatinya dipandu oleh aturan adat yang sangat ketat, norma dan keberlanjutan lingkungan, serta rasa hormat yang mendalam terhadap tanah warisan leluhur agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Fenomena kebakaran hutan di kalimantan telah menjadi bagian dari ritme kehidupan yang berulang atau sebuah siklus tahunan yang telah hadir sejak saya kecil hingga hari ini. Jumlah hutan yang terbakar tidak sedikit bahkan sampai ribuan hektar hutan dan lahan yang terbakar. Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi yang disalahkan atas bencana ini pasti masyarakat adat, karena adanya narasi yang menyamakan tradisi berladang dengan api yang dilakukan masyarakat adat secara turun-temurun dengan kebakaran berskala besar. Padahal praktek membuka lahan dengan cara membakar secara terbatas dan terkontrol merupakan bagian dari kearifan lokal serta identitas kultural masyarakat adat dayak. Namun, aktivitas ini kerap disamakan atau dijadikan kambing hitam oleh pihak luar untuk mengalihkan perhatian dari pembukaan lahan skala luas secara ilegal oleh koperasi maupun koperasi besar yang mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan sepihak tanpa memperdulikan ekosistem setempat.

Memori Kolektif dan Masa Kecil di Bawah Jelaga

Secara perlahan, peristiwa yang terjadi berulang kali ini membentuk apa yang disebut dengan memori kolektif. Ingatan tentang bencana ini tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah ataupun laporan statistik saja, melainkan tertanam dan hidup dalam ingatan bersama masyarakat yang mendiami pulau kalimantan. Memori kolektif ini diteruskan dari mulut ke mutu, mengendap dalam kesadaran publik sebagai bentuk trauma sosial yang sulit untuk dihilangkan. Dari generasi ke generasi, anak-anak tumbuh dengan kebiasaan yang sama “Melihat matahari yang awalnya kuning cerah perlahan berubah menjadi warna jingga, langit yang awalnya membiru perlahan berubah menjadi abu-abu buram bahkan gelap gulita karena saking tebalnya kabut asap yang melanda. Pengalam masa kecil di bawah langit yang tertutup jelaga ini menegaskan betapa krisisnya ekologis yang telah merenggut kebebasan anak-anak untuk menikmati udara segar.

Rusaknya Hutan Gambut dan Kerentanan Permukiman

Dampak dari kebakaran hutan di kalimantan sangatlah masif, ribuan hutan dan lahan gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem murni dan penyerap karbon dunia hangus terbakar begitu saja dalam hitungan hari. Api yang melahap hutan gambut tidak hanya merusak keanekaragaman hayati yang ada di hutan Kalimantan seperti flora dan fauna, tapi juga merayap ke dekat pemukiman warga. Ketakutan akan api yang mendekati permukiman bukan lagi bayangan abstrak melainkan ancaman nyata yang dirasakan masyarakat kalimantan.

Ancaman Kesehatan dan Solidaritas Relawan Simpang Hulu

Setiap kali musim kemarau tiba, kecemasan kolektif ini kembali muncul dalam ingatan mereka tentang bagaimana kekeringan yang melanda, seperti susahnya mendapatkan air bersih dan dampak dari kebakaran hutan terhadap kesehatan pernapasan, karena asap tebal dari kebakaran hutan mengandung partikel yang berbahaya seperti PM2.5 serta gas beracun yang memicu infeksi saluran pernapasan akut ISPA, serta paparan asap juga menyebabkan iritasi pada mata, hidung, hingga tenggorokan. Di Tengah krisis kesehatan dan kekeringan ini, ketahanan sosial masyarakat kembali diuji. Di kecamatan simpang hulu, aksentuasi solidaritas terlihat nyata melalui aksi relawan simpang hulu yang bergerak di garis depan. Para relawan ini turun tangan secara swadaya membantu memadamkan kobaran api yang mengancam kawasan permukiman, mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan, serta menyalurkan bantuan logistik untuk meredam beban masyarakat yang terisolasi asap kebakaran hutan.

Hilangnya Rasa Hidup dan Sejarah Sosial

Hutan gambut yang terbakar bukan sekedar kerusakan lingkungan hidup yang bisa kita lihat secara fisik semata saja, tapi melambangkan hilangnya ruang hidup dan memudarnya lanskap alam yang dulunya menjadi identitas tempat tinggal. Lahan yang dulunya hijau kini berganti menjadi hamparan arang hitam yang menyisakan trauma visual. Melalui pengulangan yang terjadi setiap tahunnya, serta perjuangan masyarakat adat dan relawan dalam bertahan hidup, kebakaran hutan dan lahan di kalimantan telah bertransformasi dari sekedar fenomena alam menjadi bagian dari sejarah sosial masyarakat.

  • Penulis: Maria Nopianti
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 288
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. PAKET CINTA DARI LAUTAN Sewaktu aku mandi di lautan Sungguh, aku merasakan getaran cintanya Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya Laut memang pergi dan datang menghempas tepian Gelora suaranya bertebaran ke langit Namun tak pernah […]

  • Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Oleh: Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar   Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya […]

  • Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Esai Memori Kolektif Tragedi Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, 28 September 2018 Oleh: Agustinus Naisoko, Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Senja di Teluk Sore itu, 28 September 2018, Palu tampak seperti sore-sore lain yang biasa dilewati orang Palu. Matahari condong ke barat, cahayanya jatuh keemasan di permukaan Teluk, dan angin laut membawa bau asin yang […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Irenius Arya Pandya Cetta
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Irenius Arya Pandya Cetta Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Wajah Yogyakarta di Persimpangan Zaman   Ketika Yogyakarta Mulai Berubah Yogyakarta hari ini dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan salah satu pusat sejarah Jawa. Di balik keraton, jalan-jalan yang ramai, serta kehidupan masyarakat yang terus bergerak, tersimpan sebuah masa ketika kota ini berubah […]

expand_less